a Cup of Tea

black-coffee

“Kenapa sih kita harus ngobrol di dalam mobil setiap kali ketemu? Nggak bisa ya kita duduk—ngopi?”

Kali ini, aku tidak memintanya duduk di sampingku lagi.

Aroma harum mocca-arabika menguar di udara, lantunan So Would You Let Me Be milik D’Cinnamons mengalun lembut. Memukulku telak—kedua kali— setelah dia mendorong undangan berbentuk persegi di atas meja lebih dekat padaku.  Dia diam, menunduk sebelum akhirnya mengulum senyum.

Senyum yang dipaksakan.

Yang aku ingat, aku tidak pernah melihatnya senyum sekecut itu setelah ia memilih mengundurkan diri dari perusahaan yang mempertemukan kami. Senyumnya selalu merekah bersama binar di sepasang matanya, tawanya selalu menggema setelah lelucon murahan keluar dari bibirnya. Aku menghela napas perlahan, melemparkan sesungging senyuman.

“Selamat, ya. Aku turut senang.”

Basi!

Yang aku tahu, ada yang remuk di dalam hatinya. Matanya yang berkaca-kaca, pipi dan hidungnya yang memerah, serta bibirnya yang bergetar pelan mampu membuatku menelan ludah. Pahit. Seharusnya luka dari perpisahan ini tidak meninggalkan perih karena sejak awal aku tahu, kami tidak memiliki masa depan.

Betapa aku sangat ingin memeluknya, mengecup lembut bibirnya, dan mengatakan bahwa aku akan memperjuangkannya. Tetapi, lidahku kelu. Jadi, aku hanya diam menatapnya dalam-dalam. Menyimpan setiap guratan pada wajahnya, mengenang kembali tawanya yang menggema.

“Kamu mau nambah kopinya?” tanyanya pelan, ia meraih cangkir hitam yang sudah kehilangan isinya. “Aku pesanin lagi ya?!”

Aku memandangi punggungnya, mengamati gerakan rambutnya. Perempuan yang kusisipkan namanya dalam doa sudah menemukan kebahagiaannya. Ia menerima pinangan laki-laki yang dijodohkan kedua-orangtuanya setelah menyerah memperjuangkanku, memperjuangkan hubungan kami. Aku mencintainya, tetapi aku tidak bisa menyingkirkan perempuan lain hanya untuk memilikinya.

Jadi, aku memilih merestuinya.

Aku tahu, kami berdua sama-sama patah hati. Aku harus merelakannya, dan ia harus melepaskanku untuk hidup bersama laki-laki lain. Jari manis kami sama-sama dilingkari cincin emas, sebuah pagar yang tidak mungkin bisa ia langgar. Ia meminta untuk berhenti, menangisi kelemahan kami yang tidak bisa memperjuangkan hubungan ini. Aku tidak ingin menyakitinya lebih jauh lagi.

Bukan, bukan dia yang salah.

Seingatku, jatuh cinta tidak pernah salah. Hanya saja, kami ditakdirkan untuk tidak memiliki. Jodoh itu rahasia tuhan, tetapi jatuh cinta itu bisa dirasakan. Mungkin, memang inilah cara Tuhan untuk menghentikan kami dari kesalahan yang selalu meminta pembenaran. Aku dan dia harus berpisah.

Apapun alasannya, apapun caranya.

Cepat atau lambat, ia akan menjadi milik orang lain. Aku— menanggung luka karena tidak bisa melepaskannya begitu saja. Yang aku tahu, masa sulitku baru saja dimulai. Ini bukan sekedar patah hati. Lebih dari itu, sakitnya membuatku mengerti bahwa ada banyak hal yang lebih pahit dari ampas kopi.

“Ini Americano kamu.”

Aku mengangkat wajah, mengamati sepasang matanya yang sudah berair. Ia mengulum senyum, menyesap cangkir chamomilenya perlahan.

“Apa kopi favorite dia?”

Lagi-lagi, perempuan di hadapanku tersenyum. Ia menggeleng kecil, menyelipkan rambutnya di balik cuping telinga. “Aku nggak tahu.”

“Kamu akan menikahi laki-laki yang bahkan kamu gak tahu apa kopi favoritnya?”

“Jatuh cinta dan hidup bersama itu perkara yang berbeda, Don. Aku mungkin belum jatuh cinta sama dia, tapi aku sudah memilih untuk hidup bersama dia. Seiring dengan berjalannya waktu, aku akan tahu kopi apa yang dia suka.”

“Ra…”

“Don, you were my favorite coffee. But now, I drink a cup of tea.

Maura

 

Maura mengamati jarum panjang jam di pergelangan tangannya yang mendengkati angka dua belas. Ia menengadah, memandang ke sembarang arah. Maura menggigit bibir. Tiga jam sepuluh menit, bahkan sebentar lagi film yang seharusnya ia tonton akan segera berakhir. Ia datang satu jam lebih awal, mengantri di loket, memilih kursi seperti yang diminta laki-laki berkulit putih itu. Seingatnya, Dimas bilang ia pasti akan datang. Maura percaya, berkali-kali ia pergi ke toilet untuk memastikan wajahnya cukup segar.

Dua jam sepuluh menit yang lalu, suara seorang perempuan menggema mengisi seluruh ruangan. Memberitahukan bahwa theater lima sudah dibuka, kemudian berpasang-pasang kaki mengantri untuk masuk ke dalam ruangan. Maura gelisah, tetapi dia tidak bergeming. Matanya masih tertuju pada pintu masuk, hatinya masih mengucap doa meski semangatnya meredup. Jika kali ini Dimas tidak datang, maka ia sudah selesai.

Kamu bukan prioritasnya, Ra.

Sekali lagi, Maura menatap layar ponselnya. Tidak ada pesan, tidak ada panggilan masuk, tidak ada bbm, atau bahkan what’s up dari Dimas yang mengabari posisinya. Bahkan, setelah berulang kali mencoba, Maura hanya mendapat jawaban dari seorang operator provider untuk meninggalkan pesan. Sepi. Ditengah-tengah hiruk pikuk orang-orang yang menunggu giliran menonton, Maura mendadak tuli. Ia menelan ludah, meremas dua lembar tiket dan membuangnya ke dalam tempat sampah.

Sudah cukup, Maura. Mulai sekarang, kamu harus tahu bagaimana cara berjalan mundur…

Maura berjalan cepat menuju toilet, merangsek masuk, mengunci pintu, kemudian membungkam mulutnya sendiri. Ini bukan patah hati, hanya sudah saatnya ia bangun dari mimpi. Mungkin ia yang terlalu cepat mengambil kesimpulan, salah dalam mengartikan sikap baik Dimas yang ia terima. Barangkali, memang ini bukan patah hati. Tetapi sebuah tanda bahwa ia harus berhenti.

“Gak mungkin Dimas mau ninggalin Mossa demi lo, Ra. Wake up! Mau sampai kapan lo terlelap?”

“Gue bahkan nggak pernah minta untuk dijodohkan sama dia, Nis. Gue hanya butuh dia tetap seperti ini, jangan berubah. Permintaan gue sederhana, kan?”

“Sederhana tapi muluk!”

“Bahkan, hal sederhana pun belum tentu bisa terwujud.”

Percakapannya dengan Nissa berdengung di telinga, bantahan-bantahan sahabatnya berputar cepat di dalam kepala. Hal sederhana pun belum tentu bisa terwujud. Maura memejamkan matanya, berusaha untuk tidak bertanya pada Tuhan.

Sudah tahu ia milik orang lain, lalu kenapa kamu masih ingin memilikinya?

Berhenti, Maura… Sekuat apapun kamu menginginkannya, kamu tidak pernah bisa memilikinya.

Sesunggukan, Maura mengusap wajahnya yang basah. Ia bisa menangis sepuasnya, kecewa sedalam-dalamnya. Tetapi besok ia harus berubah, berhenti mencintai Dimas, berhenti mengharapkan milik orang lain. Mungkin keinginannya sederhana, tetapi Tuhan tidak menyetujuinya. Apa bedanya menginginkan Dimas tetap di sisinya dengan meminta Tuhan menjodohkan mereka berdua? Egois. Namun terkadang, kebahagiaan harus disertakan dengan pengorbanan.

Maura tidak ingin menyalahkan Tuhan, tidak juga dengan keadaan. Mungkin hatinya gagal menghadapi cobaan karena terkadang ada seseorang yang datang hanya untuk menguji perasaan, bukan untuk menjadi yang benar-benar membahagiakan. Mencintai punya waktu untuk memulai dan berhenti. Jika kemarin ia tidak bisa menentukan kapan ia jatuh cinta pada Dimas, maka seharusnya hari ini ia bisa berhenti. Karena tidak ada lagi alasan, karena ia sudah mendapat jawaban.

Kamu tidak perlu menjauh, aku tahu bagaimana cara berhenti dan berjalan mundur…

Maura mengangguk kecil, meyakinkan dirinya sendiri. Ia keluar dari toilet, membasuh wajahnya dengan air di washtafel, kemudian berlalu melewati orang-orang yang duduk menunggu pintu thearer masing-masing di buka. Maura menggigit bibir, mempercepat langkahnya menuju pintu keluar.

“Ra…” suara berat yang tidak asing di telinganya membuat langkah Maura tertahan. Matanya memanas, pandangannya kabur. Ia menggenggam gagang tas-nya kuat-kuat.

“Maura.”

Perasaannya membuncah. Maura berjalan cepat melewati laki-laki beraroma musk dalam balutan kemeja garis-garis merah muda. Entah apa arti ini semua, Maura hanya ingin berhenti. Bukan karena ia tak yakin pada takdir, hanya saja memiliki harapan yang terlalu besar terasa sangat menyakitkan. Jika ia selesai hari ini, maka ia tidak ingin dipertemukan lagi. Tetapi jika Tuhan mengatakan bahwa hal sederhana yang menjadi mimpinya masih bisa berlanjut, ia hanya meminta Dimas yang memperjuangkannya.

Tuhan, jika mimpi yang terlalu muluk ini tidak pantas diwujudkan, maka jangan biarkan aku menoleh ke belakang…

Lena

Lena bergelung di dalam selimut, memeluk laki-laki yang terlelap di sampingnya. Suara dengkuran halus menggelitik telinganya, membuat kupu-kupu di dalam perutnya berterbangan. Diam-diam ia mengulum senyum, memainkan jemari tangannya pada rambut ikal laki-laki beralis tebal di sampingnya. Jarum jam sudah menunjukan pukul tiga pagi, tetapi Lena masih terjaga. Masih memandangi wajah lelaki di sampingnya, merekam dengkur halusnya.

Perempuan dalam balutan baju tidur berwarna biru itu bangkit, duduk bersandar pada punggung ranjang. Lena menarik selimut untuk menutupi tubuh Bara yang hanya berbalut kaos hitam dan celana pendek. Ingin rasanya memejamkan mata dan memeluk Bara, menggeliat pelan ketika pelukan Bara melonggar, menempelkan kupingnya pada dada lelaki itu.Tapi Lena tahu, ia butuh kenangan yang lebih dari sekedar merasakan tubuh Bara. Ia ingin mengingat wajahnya, mengingat deru napas dan dengkuran halusnya. Lena ingin melihat wajah Bara ketika terlelap, menebus setiap tanya yang menghampirinya ketika Bara tidak di sana.

“Kamu belum tidur, Le?” Bara mengerjap-kerjapkan matanya, menarik bantalnya lebih dekat. “Kenapa?” lanjutnya.

Lena menggeleng kecil, memainkan rambut Bara perlahan. “Nggak apa-apa, aku nggak ngantuk aja. Kamu tidur lagi, gih!”

Bara meraih tangan Lena, menarik tubuh perempuan itu untuk kembali rebah. “Sini.”

Lena menurut, merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan membiarkan Bara menariknya lebih rapat. Jantung Lena berdegup lebih cepat ketika napas Bara yang hangat menampar kulit keningnya.

“Bar….”

“Hmm…”

Lena memeluk Bara, menghirup aroma tubuhnya dalam-dalam. “Aku kangen.”

Bara tak menyahut, hanya melingkarkan tangannya pada tubuh Lena. Ia tidak ingin membahas apapun di atas tempat tidur, tidak ingin melukai moment yang tidak bisa ia dapatkan setiap hari bersama Lena. Ia hanya ingin memeluk Lena, merasakan kehadirannya.

“Bara…”

“Aku seribu kali lebih kangen, Le.” Sahutnya dengan suara serak.

Lena menelan ludah, meneguk pahit yang menempel di tenggorokannya. Ada banyak hal yang ingin Lena ceritakan, mengembalikan semua kebiasaan yang perlahan menghilang. Lena ingin Bara memainkan anak rambut yang menutupi sebagian keningnya, mendengar setiap lelucon yang keluar dari bibirnya. Tapi Lena tahu, untuk saat ini—rebah diam dan memeluk Bara erat adalah salah satu doa yang sudah dikabulkan Tuhan untuknya.

Jika menjadi egois bisa dibenarkan, Lena ingin mengunci pintu dan membuang kunci itu entah kemana. Tempat yang jauh, mungkin. Menyimpan Bara di dalam kamar selama berhari-hari, menghirup aroma tubuhnya hingga ia muak, mencecap bibirnya yang manis setiap pagi, atau bahkan hanya rebah memeluknya dalam diam. Lena ingin Bara seutuhnya, tanpa sisa.

Tapi apa bagusnya memiliki laki-laki yang sudah menjadi milik perempuan lain…

Terkadang Lena ingin berhenti mencintai Bara, berhenti menunggunya datang dan menyambutnya dengan pelukan. Namun ternyata berhenti mencintai seseorang tidak semudah berhenti dari meneguk bergelas-gelas kopi. Ada rindu yang meminta ditebus, ada takut yang meminta diusir dengan mendengar suaranya.

“Aku selalu sayang kamu, Le. Selalu.”

Suara Bara yang berat berdengung di telinga Lena, membuat hatinya membuncah. Seribu caci dan sumpah serapah sudah habis dilumat olehnya sejak setahun lalu—sejak ia memutuskan untuk tetap mencintai Bara, menerima laki-laki itu dalam hidupnya.

“Aku cuma mau kamu, ga lebih. Biar semua orang membenci aku, selama kamu di sini, aku akan kuat.”

“You deserve better, Le.”

“Aku nggak minta yang lebih baik, Bara. Sejak aku memutuskan untuk menerima kamu, aku siap dengan kurang dan lebihnya kamu. “

Lena memejamkan matanya, menikmati kecupan kecil di puncak kepalanya. Untuk perempuan sepertinya, dipeluk seerat ini menuju pagi adalah hal langka. Belum tentu ia bisa memeluk Bara, memiliki lelaki itu di setiap harinya. Biar saja orang lain membencinya, menghujaninya dengan sumpah serapah dan pandangan sinis. Ia tidak peduli. Karena bagi Lena, dicintai selembut ini sudah membuatnya bahagia.

INI GUE…

404171_10151226100795891_1427543337_n_large

Kebencian gue, kepingan amarah, dan sumpah serapah yang tercekat di kerongkongan itu hilang seketika. Tanpa bekas. Seperti dipaku, gue hanya bisa berdiri mematung melihat perempuan di hadapan gue bangkit dari posisinya. Perempuan yang datang dari masa lalu—gue rasa— yang menghilang tanpa pernah gue tahu keberadaannya, kali ini—dia muncul.

Entah apa yang gue rasakan saat dia menatap gue lurus-lurus. Peduli setan dengan semua seruan klakson di belakang mobil gue, dengan semua tatapan para pengendara kendaraan roda dua yang menatap sinis, dengan semua kumpulan orang yang masih menonton gue dan dia. Dia— perempuan yang selalu gue sebut dalam doa, perempuan yang namanya tercetak dengan jelas di bagian kiri dada gue.

Dyra.

Yang gue ingat, terakhir kali gue bertemu dia saat upacara pemakan Natra, enam tahun yang lalu. Dia yang dipapah karena tidak bisa menompang tubuhnya sendiri, sepasang matanya yang sembab, kulit wajahnya yang ditempeli anak rambut setelah basah oleh air mata. Gue masih bisa mendengar suara tangisnya yang pilu, bahkan gue masih bisa mengingat bagaimana dia memanggil Natra ketika itu.

“Lo kalo nyetir pake mata dong! Badan gue kurang besar atau gimana sampai lo gak bisa ngeliat orang nyebrang?!” Matanya yang berkilat-kilat sama seperti beberapa tahun lalu, saat gue berdiri di antara ia dan Natra yang bertengkar. Sepasang manik cokelat yang memantulkan bayangan gue, anak rambut yang sebagian jatuh menutupi dahinya, bulu mata yang lurus tak tersentuh maskara membuat gue tertegun cukup lama.

“Dyr…” Kepala gue sakit, semua kenangan masa lalu berputar cepat di dalamnya.

Gue meraih tangannya, menarik dia lebih dekat. Dia menatap gue heran, menarik tangannya dari genggaman gue. Tatapan matanya yang tajam masih menusuk jantung gue, masih terus membuat bagian kiri dada gue dirambati ngilu. Entah ini rasa bersalah atau rindu, yang gue tahu, ada begitu banyak keinginan untuk memeluk dia dan mengucap maaf sebanyak-banyaknya.

Maaf karena gue yang menabrak Natra. Maaf karena gue yang bilang kalau lo adalah perempuan yang sudah gue tiduri. Maaf untuk semua kebohongan gue yang membuat lo dan Natra—laki-laki yang lo tangisi setengah mampus— bertengkar. Maaf, untuk semua usaha gue yang hanya ingin memiliki lo.

“Dyr…, ini gue…”

“Aneh lo!!” Dyra berbalik, memumuti isi tasnya yang berceceran di atas aspal. Ia menoleh sebentar, kemudian berjalan melewati kerumunan orang yang masih mematung seperti gue.

Ini gue, Dyr… Oliver lo. Oliver yang waktu itu lo belain mati-matian dari pangeran lo, Oliver yang waktu itu lo sodorin sebotol air mineral, Oliver yang waktu itu lo tampar, Oliver yang waktu itu ada di samping lo—yang ngebiarin hatinya diiris-iris setiap mendengar betapa lo mencintai Natra.

Dan sekarang lo tidak mengenali gue?

“Lo bisa kali, ya, naik pangkat jadi calon suami gue kalau Natra tiba-tiba nggak ada atau milih perempuan lain daripada gue. Tenang, Ver…, lo nggak perlu ikut tes kok. Hahahaha…”

Gue nggak tahu apa yang terjadi sama dia, apa yang membuat Dyra gue lupa. Lupa sama gue—sama laki-laki yang sudah menabrak calon suaminya sampai mati. Ini gue, Dyr… Oliver lo, Oliver yang lo teriakin sebagai pembunuh.

Nat…

topi-wisuda (1)

“Bagaimana pun, semua yang kamu lakukan sudah membuatku bahagia.”

 

Aku melangkahkan kakiku memasuki gedung yang lantainya sudah dilapisi dengan karpet merah. Suara riuh tepuk tangan bercampur dengan alunan lembut piano yang mengiri langkah-langkah mungil muda-mudi penuh senyum di depanku, mereka mengangkat wajah, menatap lurus ke depan. Ini adalah hari bahagia, tebusan untuk semua peluh yang mengucur dari tubuhnya sejak beberapa tahun lalu. Beberapa perempuan setengah baya menangis terharu menyaksikan permata mereka mendapatkan sebuah gelar di belakang namanya. Sebagaian lainnya merasa bangga, karena buah hatinya memiliki nilai yang nyaris mendekati sempurna.

Kududuki sebuah kursi yang masih kosong di barisan belakang, kutegakan tubuhku, kuluaskan pandanganku. Aku ingin melihat putriku, perempuan cantik yang dulu kutimang dan kunyanyikan lagu sayang itu melenggang menaiki anak tangga dalam balutan kebaya dan toganya. Ia pasti sangat cantik, jauh lebih cantik dari hari biasanya. Seorang ibu terisak pelan di sampingku, ia mengusap air mata di pipinya dan sesekali menatap layar kamera yang menampilkan fotonya dengan seorang perempuan dalam balutan baju toga. Ah…, kalau saja aku bisa datang lebih awal dan berfoto bersama puteriku, tentu aku akan memeluknya erat dan membisikan padanya betapa ia sangat cantik hari ini.

Waktu bergulir, nama-nama wisudawan dan wisudawati disebut satu per satu, pemilik nama menaiki panggung untuk menunduk, membiarkan laki-laki bertubuh jangkung itu memindahkan tali toga dari sebelah kiri ke kanan. Kuremas jemari tanganku, kutunggu nama puteriku disebut dengan perasaan gugup. Ia tidak boleh menangis, ia tidak boleh bersedih di hari bahagianya karena penolakanku untuk menghadiri wisudanya. Aku sudah berada di gedung ini, aku sudah duduk menunggu dan melihatnya, untuk itu… ia harus berbahagia. Karena aku pun bahagia melihatnya berhasil memenuhi kewajibannya.

Natasya Nararya.

Seketika aku berdiri, kufokuskan pandanganku pada satu titik. Pada seorang perempuan yang kepalanya dibalut oleh kerudung berwarna salem dan perak. Kerudung itu dibuat menumpuk serong, kerudung peraknya dibuat lebih panjang dan menjuntai bagai selendang, kemudian ada sebuah hiasan berwarna emas yang membentuk rangkaian bunga kecil tepat di pangkal kerudung peraknya. Kebaya salemnya terhalang oleh balutan toganya, ia melangkah anggun di atas panggung, ia terima selongsong ijazahnya dengan senyum yang mengembang. Tetapi tunggu… di sepasang mata redup itu, ada kesedihan yang tak bisa ia sembunyikan.

“Kalo gitu, biar aku yang datang ke acara wisudaku sendiri.”

Kesedihan. Aku yang membuatnya menangis dan pergi kemarin malam, membuatnya memutuskan untuk menghadiri wisudanya tanpa didampingi oleh siapapun. Ia membuang undangan yang dibawanya dengan perasaan bangga dan bahagia ke dalam tong sampah. Ia memilih untuk pergi sendiri daripada memilih salah satu di antara kami, di antara aku dan dia, ayahnya. Ia ingin kami menghadiri wisudanya bersama-sama, menjadi sebuah keluarga utuh untuk menyaksikannya menjadi seorang sarjana. Malam itu ia hanya mencium tanganku tanpa mengucapkan apapun, kemudian berlalu. Aku teringat bagaimana ia terdiam cukup lama ketika aku mengatakan bahwa aku tidak akan menghadiri wisudanya, teringat bagaimana ia berusaha untuk tersenyum dan menyeka air matanya, dan teringat bagaimana bahunya berguncang pelan ketika melangkah keluar rumah.

Natasya, putriku adalah perempuan yang kuat, jauh lebih kuat dari yang kukira. Ia harus menghadapi peceraian kedua orangtuanya tanpa tempat untuk bercerita, ia tanggung semua kesedihannya seorang diri, ia tertawa dan menguatkan kedua adiknya sementara tak ada satu pun yang menguatkannya. Ia berdiri semakin tegak ketika aku memintanya untuk memilih tinggal bersama siapa, aku atau ayahnya. Ia bahkan hanya terdiam ketika aku membela habis-habisan seseorang yang dibencinya. Natasya selalu menyempatkan pulang dan membeli sebuah kado ketika aku, ayahnya, dan kedua adiknya berulang tahun. Ia selalu menyiapkan sebuah kejutan, sesuatu yang bahkan tak pernah bisa kubayangkan. Tetapi ketika hari lahirnya tiba, aku hanya bisa mengucapkan selamat ulang tahun untuknya. Aku hanya bisa memandangi wajahnya, menyadari bahwa waktu sudah membawa pergi puteri kecilku yang dulu merajuk manja. Ia jatuh berkali-kali, kemudian bangkit meski harus terseret oleh kesedihan. Ia berusaha sekeras mungkin, bahkan ketika aku tidak memuji jerih payahnya. Ia terus memenuhi semua permintaanku, bahkan ketika aku tahu, itu melukainya.

Putriku…, perempuan yang sedang tersenyum ke arah kamera itu putriku. Ia harus bangun pagi-pagi sekali untuk acara hari ini. Ia harus memesan sebuah taksi untuk mencapai gedung ini, menekan perasaannya kuat-kuat ketika orangtua sahabat-sahabatnya bertanya mengapa ia datang seorang diri. Ia hanya bisa mengulum senyum ketika melihat teman-temannya berfoto bersama keluarga. Aku melihatnya duduk menggenggam selongsong ijazahnya ketika teman-teman yang lainnya melepaskan toga mereka dan melemparnya ke atas. Semua bersorak riang gembira, tetapi puteriku hanya duduk termenung di sana.

Seharusnya ia bergembira, seharusnya ia tertawa bersama teman-temannya. Ia sudah bersusah payah mengejar ketertinggalannya, ia sudah jatuh-bangun menyelesaikan tugas akhirnya, ia pun sudah belajar keras untuk mendapatkan nilai yang memuaskan. Ketika ia sakit dan harus menjalani perawatan selama dua minggu di rumah sakit, aku tidak pernah bermalam untuk menjaganya. Hanya sesekali menjenguk, kemudian kembali ke rumah. Selama ia sakit, ia tidak pernah bertanya mengapa aku tidak mau menemaninya. Ia hanya bertanya kapan ia bisa pulang, kapan ia bisa kembali kuliah. Ia kembali kuliah setelah sehari keluar dari rumah sakit, bibirnya masih pucat, tubuhnya masih lemah. Tetapi ia lakukan semua itu untuk lulus tepat waktu, untuk mengejar semua ketertinggalannya karena tidak kuliah selama dua minggu. Untuk itu, aku tidak rela melihatnya menangis di hari bahagianya. Hari ini adalah sebuah tebusan untuk kerja kerasnya. Ia harus bahagia, ia harus berbangga.

Ia membuktikan kepadaku, kepada ayah dan kedua adiknya bahwa ia mampu melewati masa sulit di dalam hidupnya. Ia mengucap maaf ketika ia memberitahu kami bahwa ia memiliki ipk 3,32. Beberapa saat setelah ia berlalu, kuucapkan terimakasih padanya. Kubisikan terimakasihku pada angin, berharap ia bisa mendengarnya. Ia sudah melakukan hal yang baik, ia sudah melakukan sesuatu hal yang mungkin tidak bisa dilakukan orang lain ketika berada di posisinya. Ingin sekali mengatakan kepadanya bahwa aku sangat bangga menjadi ibunya, bahwa aku sangat mencintainya, bahwa aku sangat berterimakasih karena ia sudah menjadi anak yang baik dan memenuhi semua kewajibannya. Aku ingin mengatakan kepadanya bahwa aku menyesal membuatnya menangis, bahwa aku tidak pernah ingin melihatnya bersedih, dan bahwa aku tidak pernah rela jika ada seseorang yang melukai hatinya. Tetapi setiap kali aku ingin mengungkapkannya, aku hanya bisa menatap wajahnya lekat.

Lamunanku buyar seketika saat orang-orang disekitarku berpencar mencari anak, saudara, kakak, atau mungkin adiknya yang diwisuda. Mereka menghambur memeluk dengan sangat erat. Aku bangkit dari dudukku, menyusuri seluruh ruangan dengan mataku. Natasya…. Kulihat ia sedang berpelukan dengan temannya, berfoto sambil memegang selongsong ijazahnya dan beberapa tangkai mawar beraneka warna. Tanpa kusadari, air mataku menetes membasahi pipi. Buru-buru kuusap air mataku, aku tidak boleh menangis. Tidak boleh!

Suara mc dari atas panggung yang meminta wisudawan dan wisudawati menaiki panggung untuk foto bersama terdengar untuk yang ketiga kalinya. Kulihat Nat, puteriku berjalan bersama teman-temannya menaiki panggung. Matanya sedikit memerah dan berkaca-kaca. Ia berdiri di barisan ketiga dari kanan, dan kedua dari depan. Nat berdiri menyamping, kemudian pada hitungan ketiga semua tersenyum ke arah kamera. Aku merogoh tasku, meraih ponsel dan menghubungi puteri keduaku. Ia harus masuk dengan cepat, ia harus memotret kakaknya yang cantik dan membuat kakaknya bahagia. Beberapa menit kemudian, aku melangkah mendekati kerumunan wisudawan-wisudawati yang masih melakukan foto-foto di bawah panggung. Kuamati mereka satu per satu, kucari Nat kesayanganku.

Ia tak ada.

Nat-ku tidak ada. Seketika aku melangkah cepat, mataku mencari-cari sosok itu. Kutanyai temannya satu per satu, mereka memandangku heran. Salah satu sahabat Nat, Kikan, meraih tubuhku dan memelukku erat. Ia menangis pelan, mengucapkan kalimat yang memintaku untuk mengikhlaskan Nat. Aku tidak mengerti, tetapi air mataku menetes dan tidak bisa berhenti. Kemudian, entah siapa yang memberi aba-aba, teman-teman Nat yang berdiri di sekitarku turut menangis pilu bersama Kikan yang sedang memelukku.

Dean, puteri keduaku menghampiriku dengan mata sembab. Ia menghambur memelukku, membisikan satu kata yang seketika membuat kakiku lemas. Bersamaan dengan itu, ingatanku kembali pada hari kemarin. Pada sebuah prosesi pemakaman puteri sulungku, pada sebuah kabar yang memukul hatiku telak. Aku kehilangannya, ciumannya ditanganku adalah ciuman terakhirnya. Wajah penuh kekecewaan dan kesedihan itu adalah ekspresi terakhir yang kulihat darinya.

Malam itu, ketika ia memutuskan untuk kembali ke kota tempat ia menuntut ilmu, setelah beberapa jam ia pergi, seseorang meneleponku dan memberitahu bahwa Nat mengalami kecelakaan dan berada dalam kondisi kritis. Aku tidak menggubrisnya, kupikir itu hanya tipuan orang yang sedang membutuhkan uang. Namun keyakinanku goyah seketika saat dia, ayah Nat, datang ke rumah dan menjemputku dan kedua anakku yang lain untuk pergi ke rumah sakit. Tetapi kami terlambat, setibanya kami di sana, Nat sudah tidak ada.

“Maaf, Pak, Bu. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Tetapi kecelakaan yang dialami puteri anda membuatnya kehilangan banyak darah dan mengalami luka yang cukup serius. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tetapi tuhan berkehendak lain.”

Nat-ku. Ia pergi ketika tidak ada siapapun di sampingnya, ketika salah satu dari kami tidak berdiri mendampinginya. Ia memutuskan untuk pergi seorang diri, ia memutuskan untuk menelan kekecewaan itu bulat-bulat. Kalau saja…, kalau saja aku menahannya hari itu. Kalau saja aku tidak membuatnya menangis, tentu hari ini aku akan benar-benar melihat Nat-ku berdiri dengan selongsong ijazah dan tali topi toga yang sudah berpindah tempat.

“Nat…, Natasya… bagaimana pun terimakasih, dan tolong… maafkan Ibu yang sudah menjadi egois.”

KITA

funny-egg-facebook-cover-t2
Aku yang akan bersuara, ketika kamu tidak bisa bercerita….

 

Ada yang bilang, sahabat adalah keluarga yang bisa kita pilih. Seseorang atau bahkan beberapa orang, dari sekian banyak manusia yang berada di sekililing kita, yang kita percayakan untuk menjaga sebagian diri kita. Menjadi seseorang yang akan membukakan pintu ketika kita lari dari rumah, meminjamkan bahu dan sepasang telinga ketika kita menangis dan berkeluh kesah, membagi sedikit waktunya untuk meladeni setiap sikap kekanakan kita. Dan mereka-keluarga yang bisa kita pilih, akan menerima kita tanpa pernah mau tahu bagaimana kita saat itu.
Aku percaya, setiap manusia memiliki sahabat, atau bahkan… pernah memilikinya. Karena bagaimana pun, seseorang tidak pernah bisa hidup dalam kesendirian. Nyatanya, seorang introvert pun membutuhkan satu dari sekian banyak orang disekelilingnya untuk berbagi. Mulanya, aku tak percaya kalau orang-orang introvert yang asik dengan dunianya sendiri masih membutuhkan orang lain, hingga suatu hari aku tersadar, seorang dokter yang sakit, masih membutuhkan dokter yang lain untuk menyembuhkannya.
Lucu?
Tidak! Itu adalah sebuah kenyataan, yang membuat sepasang mataku terbuka lebar, membuatku menyadari bahwa Tuhan menciptakan hati yang penuh kasih agar kita bisa menerima orang lain dan hidup bersamanya, sebagai sepasang teman, sahabat, kekasih, atau bahkan… keluarga.
Keluarga… ah, aku akan bercerita tentang seseorang yang sudah kupilih untuk menjadi keluargaku. Seorang perempuan dengan iris berwarna cokelat muda, berambut hitam panjang, kulit kuning langsat, dengan garis bibir yang jelas, dan memiliki sebuah nama yang indah.
Fajra Nada Nadifa
Perempuan itu sedang terbaring koma, melawan rasa sakit yang selama dua tahun ini dia sembunyikan dariku, ditutupi dengan tawa dan ekspresi ceria yang tak pernah ada habisnya. Ia akan berlari kecil ke arahku ketika ia melihatku seorang diri dari kejauhan, memanggil namaku hingga aku menoleh, atau bahkan terus menghiburku sampai aku tertawa. Menyerah pada kekecewaanku.
Fajra tidak pernah lelah melontarkan kalimat konyol, sebuah candaan yang bahkan terkadang tidak lucu sama sekali, hanya untuk membuatku merasa lebih baik. Mungkin, jika suatu hari nanti seseorang bertanya tentang satu hal terbaik yang kumiliki, aku akan menjawab; memiliki Fajra di hidupku, adalah salah satu hal terbaik, yang tak pernah lupa untuk kusyukuri.
Ya! Memiliki Fajra, menjadi sahabatnya, adalah sebuah keberuntungan karena ia tidak akan pernah melepaskan genggaman tangannya dan membiarkan teman, sahabat, dan keluarganya jatuh. Dia adalah seorang perempuan yang akan duduk-diam-menyimak setiap kalimat yang dikeluarkan, setiap keluh-kesah, menyerap setiap lelah dan menggantinya dengan pasokan semangat yang sangat besar. Ia akan merangkul pundakku, mengajakku tertawa, bahkan ketika aku sedang tidak ingin melakukannya. Bagi Fajra, hidup tidak boleh menyerah pada kecewa dan kesedihan. Hidup harus melawan arus, hidup harus penuh dengan kebahagian karena hanya dengan berbahagia, kita akan tahu harus hidup seperti apa.

***

Jakarta, Februari 2013
Pucuk mahoni yang berwarna hijau itu bergoyang-goyang diterpa angin, dedauan dan bunga-bunga berkelopak kecil berguguran, berserakan menutupi aspal yang hitam. Langit sedang muram, gumpalan awan yang nampak seperti permen kapas gosong itu bertumpuk-tumpuk menyembunyikan biru, menutupi matahari, membuat dingin cuaca hari ini.
Jarum jam di pergelangan tangan sudah menunjuk angka dua romawi, menunjukan bahwa siang sudah menjelang sore hari, menegaskan waktu yang kusia-siakan untuk menunggu perempuan yang membalas pesan singkatku dengan kalimat ‘lagi dijalan’ sudah genap satu jam. Entah aku bodoh atau terlalu malas bergerak, hingga aku masih saja duduk bersandar pada bangku kayu di sebuah teras café dengan gelas kosong yang isinya sudah berpindah ke dalam perutku.
Aku mendesah pelan, jengah pada tatapan pelayan café yang tak juga lepas dariku. Kalau saja perempuan yang kutunggu bukanlah orang yang kukenal selama bertahun-tahun, mungkin aku sudah meninggalkannya dan memutuskan pertemanan dengannya. Sayangnya, perempuan ini adalah perempuan yang sudah kukenal selama bertahun-tahun, bahkan nyaris setengah umurku. Bagaimana tidak, aku mengenal dia dan berteman dengannya sejak kami duduk di bangku SMP, hingga kini kami duduk di bangku kuliah semester empat.
“Gue pasti telat banget! Sorry…, ada urusan mendadak yang nggak bisa ditinggal sama sekali.”  Perempuan berambut hitam sebahu itu menarikku, menempelkan pipinya pada pipiku, kemudian menarik kursi di hadapanku dan menghempaskan tubuhnya di sana.
Ia mengangkat tangannya, memberi kode pada seorang pelayan café yang berdiri di dekat pintu untuk menghampirinya. Wajahnya kusam, peluh memenuhi dahinya. Aku tahu, ia pasti berlari agar lebih cepat tiba di sini. Ia tahu aku akan marah dan mendiamkannya jika ia datang lebih lama lagi, dan aku tahu… ia pasti sudah membeli sebatang cokelat untuk melunturkan kekesalanku.
“Taro float-nya satu ya, Mbak.” Ujarnya ketika pelayan berambut hitam dikuncir rapi itu menghampirinya. Ia tidak membuka buku menu yang disodorkan oleh perempuan berkulit cokelat itu, pun tidak meliriknya.
“Lo pasti marah banget ya sama gue, Bil? Sorry…, beneran deh, gue nggak maksud buat bikin lo nunggu.” Ujarnya setelah menarik napas dalam-dalam.
Aku membuang wajah, memandang lurus pada jejeran mobil yang terparkir rapi. Aku marah, pasti! Tapi entah mengapa, aku tidak bisa marah terlalu lama kepadanya. Ia akan terus menatapku dengan tatapan memohon dan mengucap maaf, bahkan ketika aku sudah berjalan menjauhinya.
“Eh, bangke! Lo tuh ya, kalo ada urusan mendadak bilang, dong! Ini bilangnya lagi di jalan, lagi di jalan. Tahu gitu kan gue bisa cuci mata dulu!” Semprotku pada akhirnya. Ia, perempuan yang kumarahi hanya memberi cengiran lebar seraya mengipasi tubuhnya dengan tangan.
“Kalau gue bilang, nanti lo jalan kemana tahu. Kalau lo jalan, ketemu barang dikson, susah diajak pulang. Lagian gue ngajak lo ke sini ‘kan katanya ada yang mau lo omongin. Sekalian gue refreshing, makan-makan.”
“Gue nggak mood mau cerita. Capek nungguin lo sejam!”
Perempuan itu beranjak masuk ke dalam café tanpa membalas pernyataanku. Beberapa menit kemudian, ia keluar dengan membawa segelas taro float dan sebotol air mineral yang berembun. Ia menaruh botol air mineral itu di atas meja, kemudian kembali duduk di kursinya dengan tangan yang memegang gelas berisi minuman berwarna ungu.
“Ya…, terserah lo. Gue kan hanya menjadi seorang pendengar, kalau mau cerita gue dengarkan, kalau nggak, gue mau makan.” Sahutnya setelah menyedot minuman berwarna ungu itu.
“Ish… lo tuh, ya! Gue mau cerita, soal kejombloan gue!”
“Nggak ada yang lebih penting dari itu?”
“Ini penting, Faj. Penting!” tekanku.
“Oke! Kenapa?”
Aku menarik napas, menatap Fajra lurus-lurus, kemudian bercerita. Aku memulai ceritaku dengan hati-hati, takut kalau tiba-tiba ia tertawa karena kekonyolanku. Tetapi ia hanya memasang wajah serius, dengan dahi yang berkerut, mempertemukan sepasang alisnya yang hitam. Perlahan, aku mulai merasa lebih santai. Kuungkapkan semua kekesalan hatiku, setiap sesak yang menyumbat laju pernapasanku, semua hal yang membuatku merasa tidak baik. Kusebut nama lelaki yang memenangkan hatiku, nama perempuan yang terus-terusan menempel dan memepet lelaki itu seperti bus Jakarta-kuningan, kuceritakan setiap kelakuan menyebalkannya yang membuatku ingin menggaruknya dengan garpu rumput.
“Dia tuh kegatelan banget, Faj! Gayanya yang sok banget itu, bikin gue males ngelihatnya. Dandanannya menor abiiis…, gak ngerti ya… kenapa laki-laki lebih suka sama cewek-cewek kayak dia? Cewek normal kayak gue, nggak dilirik sama sekali. Kurang apa coba? Gue cantik, pintar, easy going, ramah, banyak-lah kelebihan gue, tapi kenapa dia tuh nggak ngelihat gue, sedikiiiiit aja? Heran gue!”
“Gue juga heran sama lo, Bil.” Fajra menyandarkan tubuhnya pada punggung kursi, jemari tangannya mengetuk-ngetuk permukaan meja. Menciptakan nada lembut yang beraturan.
“Kok bisa ya, lo menceritakan perempuan itu sampai sedetail itu? Lo benci sama dia, tapi ternyata… secara nggak sadar, lo memperhatikan setiap detail di dirinya. Bahkan mungkin, lo menyadari sesuatu yang salah sama penampilannya yang dia sendiri nggak sadar. Lo tahu semua kekurangan dia, lo tahu setiap kegiatannya, bahkan dari yang gue tangkap dari cerita lo tadi, lo lebih mengenal perempuan itu daripada mengenal laki-laki yang lo suka.”
“Ya nggak-lah! Mana bisa kayak gitu, Faj? Nih, ya, Fajra… Jelas banget gue tahu dia kayak apa, orang dia tuh nempel terus sama Damara. Risih kan gue lihatnya, gue suka sama Damara, gue perhatiin setiap detail yang ada di Damara, dan secara nggak sengaja, karena cewek itu ada di samping Damara terus, ya… gue jadi ikut merhatiin dia juga. Tapi kalau lo bilang, gue lebih mengenal perempuan itu daripada mengenal Damara, lo salah! Gue tahu semua tentang Damara.”
“Oh ya?” Fajra membulatkan matanya, ia membuang napas keras-keras, kemudian menyedot isi gelasnya sekali lagi.
Aku mengangguk, mengamini ucapanku, berusaha meyakinkan perempuan di hadapanku walau sebenarnya aku sendiri ragu. Mungkin dia benar, aku tidak mengenal sosok Damara dengan baik. Aku tidak tahu banyak tentangnya, tidak tahu apa makanan dan warna favoritnya, tidak tahu latar belakang keluarganya. Tapi, diluar itu semua, aku mengenal Damara.
Dia adalah sosok laki-laki yang baik, yang mau berbagi ilmu, yang sabar mengajariku, yang matanya akan menyipit ketika tawanya berderai-derai, yang selalu datang tepat waktu, yang akan marah jika aku tidak bisa mengerjakan soal-soal yang dia berikan, yang… yang mungkin, akan kukenal lebih dalam lagi esok hari.
“Bil, gue tahu banget lo kayak apa. Jangan terburu-buru mengambil kesimpulan, Billa. Dia baik sama lo, bukan berarti dia suka sama lo. Dia dekat dengan perempuan itu, bukan berarti juga dia suka sama perempuan itu. Lo harus tahu lebih dalam, lo harus lihat dari berbagai sudut pandang, dan lo harus mengenal laki-laki itu lebih baik lagi. Lo bilang, lo cantik, lo pintar, apa sih yang kurang dari lo? Nggak ada? Lo nggak akan pernah tahu jawabannya kalau lo nggak pernah nyoba untuk bertanya.”
“Oke, sekarang gue tanya sama lo, Faj. Apa coba yang kurang dari gue?”
“Lo mau dengar jawaban gue?” Ia balik bertanya.
Aku mengangguk cepat. Fajra adalah tempat bertanya yang tepat, karena ia akan mengatakan yang sejujurnya. Ia akan mencari cara mengatakan sesuatu dengan baik, walau sebenarnya itu tetap akan terasa menyakitkan.
“Lo kurang bisa mengendalikan diri.”
Lagi.
Dia baru saja mengatakan bahwa aku tidak bisa mengendalikan diri. Sekuat apapun aku mencoba, untuk Fajra tidak ada apa-apanya. Ah…, apa mungkin aku belum berubah atau memang Fajra yang tidak bisa melihatnya?
“Gue tahu selama ini lo mencoba untuk jadi lebih baik, tapi jangan pernah berhenti, Bil. Saat lo marasa cukup baik, lo harus ingat, di luar sana masih ada satu juta orang yang jauh lebih baik. Lo nggak perlu mengejar laki-laki sampai menghabiskan waktu lo sendiri hanya untuk mengamati dia, menebak-nebak apa dia suka sama lo atau nggak. Kenapa lo nggak coba cara yang lain? Masuklah ke dalam hidup dia sebagai seorang teman, sebagai seseorang yang bisa diandalkan, biarkan dia mencintai dan mengenal lo pelan-pelan.”
“Tapi, Faj… kalau gue jalan pelan-pelan, nanti Damara keburu direbut orang. Gue sayang sama dia, suka banget!”
“Damara itu manusia, Billa. Punya hati dan pikiran, dia bisa memilih perempuan seperti apa yang ingin dijadikan pasangannya. Lo nggak bisa maksa Damara untuk suka sama lo dan nerima lo gitu aja tanpa ada prosesnya. Maksud proses di sini, waktu untuk membuat dia mengenal lo dan lo mengenal dia. Gue cuma khawatir, kalau nanti Damara nggak sesuai dengan apa yang lo mau, lo berhenti untuk mencintai dia.”
“Pasti! Kenapa gue harus mempertahankan laki-laki yang nggak sesuai dengan keinginan gue?”
“Kalau gitu, kenapa lo nggak berhenti untuk mengejar lelaki itu? Kenapa lo nggak mulai mencari laki-laki yang benar-benar lo mau?”
“Kita nggak akan tahu kalau kita nggak nyoba, Faj. Gimana mau tahu coba kalau kita nggak nyoba? Kan lo sendiri yang bilang kayak gitu.”
Fajra tertawa kecil, ia menarik tubuhnya dari punggung kursi, bertompang dagu seraya menatapku.
“Cobalah untuk mengenal dia lebih jauh lagi, Billa. Tapi disaat lo masih bisa berhenti, berhentilah. Bil…, mencintai seseorang itu nggak bisa serta-merta membuat kita bahagia. Kitalah yang membuat kebahagian itu, bukan kebahagiaan yang membuat kita. Kalau seseorang yang sudah kita pilih tidak sesuai dengan yang kita inginkan, buatlah dia menjadi seseorang yang lebih baik tanpa membuatnya menjadi orang lain. Benar, cintai seseorang apa adanya dia. Tapi, seiring dengan berjalannya waktu, apa adanya dia akan membuat lo merasa kekurangan. Jadi belajarlah untuk membuatnya menjadi sosok yang lebih baik, yang bisa mengiringi langkah lo, berlari bersama lo, atau bahkan berhenti di sisi lo.”
“Caranya?”
“Ya lo cari sendirilah, Bil! Masa harus gue juga yang mikir?!”
Shit!
Fajra tertawa melihat ekspresi kesalku. Ia kembali mengaduk-aduk isi gelasnya, kemudian menyedotnya sekali lagi.
“Gue laper, Bil. Sapi Bali, yuk!”
“Lo yang bayar!”
“Mana bisa? Di mana-mana, yang bayar itu yang punya kepentingan.”
“Lah? Kan lo yang ngajak, lo yang mau makan!” Seruku sewot.
“Oke.” Ia meraih tas selendangnya, menyampirkannya di atas pundak, kemudian mengambil tumpukan buku yang semula ia letakan di atas kursi di sebelahnya. “Lo nggak mau makan, kan?”
“Makan! Enak aja, lo pikir nunggu sejam dilanjutin curhat itu nggak menguras tenaga?”
“Hahahaha….” Tawanya menggelegar, membuat pelayan café yang berdiri di depan pintu dan beberapa pengunjung café itu menoleh ke arahnya. Buru-buru kutarik tangannya, menghindari tatapan yang sejak awal membuatku jengah.

***

Jakarta, 2 Maret 2013
10.30 pm
“Faaaaaj…, lo di mana?” tanyaku ketika sebuah suara serak mengatakan hallo di sebrang sana.
Di rumahlah!” sahutnya sewot.
“Gue di depan rumah lo, Faj.”
HAH?” Kujauhkan ponselku dari telinga. Suara seraknya yang meninggi, kemudian diikuti suara langkah terburu-buru membuat telingaku sedikit berdenging.
Lampu ruang tengah rumah berhalaman luas itu menyala terang, beberapa detik kemudian kulihat seorang perempuan berkacak pinggang di depan pintu. Aku mengulum senyum, kulambaikan tanganku ke arahnya.
Ia berlari kecil menuju ke arahku untuk membukakan pintu pagar yang sudah digembok. Rambutnya acak-acakan, sandal yang ia kenakan berbeda warna. Aku tertawa kecil, membuat gerakan tangannya yang sedang memutar anak kunci terhenti.
“Kenapa lo ketawa? Waah…, udah kesambet nih kayaknya temen gue.” Ujarnya seraya menggeser pintu pagar itu.
Kulihat sahabatku dari ujung kaki hingga ujung kepala. Ia mengenakan piyama berlengan panjang bunga-bunga berwarna ungu, sandal kanannya berwarna merah, yang kiri berwarna hijau tua. Rambutnya yang hanya sebatas bahu itu ia kepang kecil-kecil dengan karet warna-warni, wajahnya dihiasi obat jerawat di beberapa titik. Aku berhambur memeluknya, membuatnya diam beberapa saat.
“Lo kenapa sih, Bil?” tanyanya pelan.
Aku tak menyahut, hanya memeluknya lebih erat hingga ia terbatuk. Entah mengapa, ketika aku melihatnya berdiri di hadapanku dengan penampilan yang jauh dari kata ‘indah’ untuk di pandang, aku bahagia. Bukan karena ia kalah cantik, ia selalu cantik di mataku. Tetapi karena dalam keadaan apapun, ia bersedia untuk berdiri di sisiku.
Kulepaskan pelukanku ketika ia menepuk-nepuk lenganku, memintaku untuk memberikan sedikit ruang agar ia bisa menghirup udara dalam-dalam. Ia menatapku penuh selidik, kemudian melipat kedua tangannya dan menaruhnya di atas dada.
“Berantem lagi sama Emak?”
Aku menggeleng. “Gue… sakit hati!”
“Sama siapa?”
“Sama… lo nggak mau ngajak gue masuk?”
Fajra menepuk dahinya, ia tertawa renyah. Sepasang matanya yang bulan menyipit ketika ia tertawa, tulang pipinya semakin menonjol, garis senyum di sepanjang pipinya terlihat semakin jelas. Ia mempersilahkanku masuk, menarik pintu pagar hingga rapat dengan tiang pagar lainnya, kemudian kembali menguncinya.
“Tante…, Billa nginap di sini, boleh?” aku meraih tangan perempuan setengah baya yang baru saja keluar dari kamarnya. Mata teduhnya sama seperti mata yang dimiliki Fajra, lengkung senyumnya, ah… Fajra benar-benar mirip dengan ibunya.
“Jangan dibolehin, Bu. Nanti dia keterusan kabur ke sini kalau lagi ada masalah!” seloroh Fajra seraya meletakan anak kunci di atas buffet.
“Boleh. Ibu sudah menganggap Billa seperti anak Ibu sendiri kok, anggap saja ini keluarga kedua Billa. Daripada Billa keluyuran di luar, nggak baik anak gadis keluar malam-malam.”
“Tuh, dengar kata Ibu!”
Aku memeluk tante Rasti, Ibunya Fajra. Tak peduli pada Fajra yang berlalu ke dapur untuk mengambil segelas air dan setoples camilan untuk di bawa ke dalam kamarnya di lantai dua.
“Kok rumah sepi, Tan?”
“Fajar lagi ke luar kota, ada pertandingan di Surabaya.” Sahutnya seraya mengelus rambutku.
“Yaudah, Bu. Fajra sama Billa naik dulu, ya? Ibu jangan tidur terlalu malam.” Fajra mengecup pipi Ibunya, kemudian berlari menaiki anak tangga. Aku mengekor setelah ikut-ikutan mencium pipi tante Rasti.

***

“Gue dikatain sama Damara. Dia bilang gue gendut, gak mandiri, manja, bodoh, jelek! Gue sakit hatiiii, Faj. Sakiiiiitttt!”
“Lebay lo, ah! Dikatain gitu aja sampe kabur ke rumah gue. Gampang aja sih, Bil. Lo balikin aja ke dia, emang dia kira dia ganteng? Pinter? Nggak, kan?”
“Sayangnya, dia emang ganteng dan pinter, Faj.”
Fajra menggeram kesal. Ia meraih guling dengan sarung berwarna biru bergambar awan-awan kecil. Fajra sangat menyukai langit, sekalipun langit sedang dalam keadaan tidak baik. Tidak berwarna biru, tidak berwarna jingga bercampur ungu muda, dan tidak penuh sesak oleh awan putih yang menggumpal seperti permen kapas. Tidak peduli seperti apa, langit tetaplah langit. Fajra akan tetap menyukainya, sekalipun langit menurunkan hujan batu.
“Faj…”
“Hmm…” gumamnya tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponselnya.
“Emangnya, gue gendut banget ya?”
Ia mengangkat wajahnya, meneliti tubuhku dengan sepasang matanya. Fajra meletakan benda mungil berwarna putih itu di atas meja kayu dengan permukaan kaca hitam, tepat di sisi ranjangnya. Ia merangkulku, menepuk-nepuk lenganku dengan jemari tangannya.
“Bil…, gue tahu fisik itu harus menunjang. Tapi kenapa, sih, lo harus mengeluh terus menerus dengan proposi badan lo? Lo tuh nggak gendut, badan lo berisi. Lo cantik, Bil. Lo pintar, lo baik. Jangan pernah biarkan kekurangan lo menutupi semua kelebihan lo. Laki-laki yang ngelihat lo hanya dari fisiknya aja tuh sampah! Nggak penting! Lo harus bisa menghargai diri lo sendiri, belajar untuk mencintai diri lo sendiri. Lo cantik, hati lo baik. Dan itu akan membuat lo terlihat semakin cantik. Laki-laki yang baik adalah laki-laki yang memilih lo karena kepribadian lo, yang melihat lo cantik karena dia mencintai lo, bukan mencintai lo karena lo cantik.”
“Emang ada laki-laki kayak gitu?”
“Ada!”
“Mana? Kapan gue ketemu sama dia?”
“Kalau gue bilang ada, bukan berarti lo bisa ngelihat sekarang juga, kan? Sabar, Bil. Tuhan nggak pernah ingkar janji, semua sudah diatur dengan baik. Nanti, kalau waktunya sudah tepat, lo pasti akan bertemu dengan laki-laki itu.”
“Iya gue tahu, tapi waktu yang tepat itu kapan, Faj? Mau sampai kapan gue nunggu laki-laki itu? Lo sih bisa bilang kayak gitu karena banyak laki-laki yang suka sama lo. Nah gue?”
“Lah? Banyak juga yang suka sama lo, cuma lo nggak mau tahu aja karena mereka nggak masuk dalam kriteria lo! Mereka nggak tajir, nggak ganteng, nggak pinter, bukan kapten basket kayak mantan lo yang dulu itu, terus apa lagi? Oh…, mereka cuma bisa main gitar, nggak bisa main drum juga. Mau sampai kapan coba lo membanding-bandingkan mereka sama Vino? Mereka bukan Vino, Bil. Selamanya nggak akan bisa menjadi Vino. Wake up! Nggak ada manusia yang sempurna di dunia ini, bahkan Vino yang nampak sempurna sekali pun.”
Aku terdiam, kalah telak oleh semua kalimat Fajra.
Vino adalah mantan kekasihku, sahabat terbaik Fajra dan Fajar. Fajra menganggap Vino sebagai kakak kandungnya, saudaranya, keluarganya. Kami biasa pergi berempat, Fajra dengan abangnya, Fajar. Dan aku bersama Vino. Aku mengenal Vino dari Fajra yang sudah bosan dengan cerita tentang kejombloanku, tentang pria idamanku, tentang permohonanku untuk dikenalkan dengan kapten basket sekolah Fajar. Fajra mengajakku ke rumahnya sore itu, mengenalkanku dengan Vino yang ketika itu mengenakan jaket baseball berwarna biru. Fajra dan Fajar tertawa melihatku yang salah tingkah, membuat Vino bertanya-tanya.
Ah…, aku rindu Vino. Jika saja lelaki itu ada di sini, tentu aku tidak akan pernah berlari menuju Fajra dan mengusiknya dengan segala keluh-kesahku. Lelaki itu akan mengusap puncak kepalaku, mendengar setiap ceritaku tanpa menyela-nya, memelukku ketika aku merasa buruk. Jika aku bersama Vino, aku merasa sangat baik. Tidak pernah berada di titik terendah karena aku percaya, Vino tidak akan membiarkan semua itu terjadi padaku. Tapi sayangnya Vino telah tiada. Kecelakaan beruntun malam itu telah merenggut nyawanya.
Sorry…, gue nggak bermaksud bikin lo inget lagi sama Vino.”
Entah mengapa, air mata yang menumpuk di pelupuk mataku jatuh membasahi pipi. Segelintir rasa sakit menjalar perlahan di hatiku, membuatnya sesak. Kuseka air mataku, kupaksakan bibirku untuk tersenyum. Namun, ketika Fajra memelukku dan mengusap lenganku, mengucap maaf, tangisku pecah. Dan aku sesunggukan di dalam pelukannya.

***

Aku baru saja akan memejamkan mata ketika kulihat tiga orang perawat dan seorang dokter melangkah terburu-buru menuju sebuah ruang perawatan khusus yang berada di ujung lorong pavilium ini. Ruangan itu berpintu kaca gelap dengan gagang yang terbuat dari alumunium, di atas pintu tersebut terdapat sebuah nama yang terdiri dari tiga huruf; ICU.
Ruangan bernama ICU itu bersuhu dingin. Di dalam ruangan itu terdapat beberapa kamar rawat yang difasilitasi dengan peralatan penunjang kehidupan dan peralatan yang memonitor keadaan pasien, yang langsung terhubung dengan dua buah monitor induk di nurse station. Ruangan itu penuh dengan kesedihan, kecemasan, dan harapan yang terus dilambungkan melalui rapalan doa. Pasien-pasien di ruang perawatan itu adalah pasien dengan kebutuhan khusus, dengan keadaan yang tidak biasa, dengan kemungkinan hidup yang… fifty-fifty.
Ah…, aku jadi teringat pada sahabatku yang suatu sore mengirim sebuah pesan singkat, yang berisi tentang kesedihannya ketika melihat seorang pasien yang baru saja menjalani operasi di kepalanya. Pasien tersebut sengaja dibuat koma untuk menekan resiko kerusakan otak yang dapat disebabkan oleh paksaan otak itu sendiri untuk bekerja secara normal, semisal mengatur kerja paru-parunya. Karena itu, fungsi paru-parunya digantikan oleh sebuah alat yang disebut dengan ventilator. Setelah kondisi pasien tersebut lebih baik, maka ventilator tersebut akan diatur untuk tidak mengambil alih seluruh kerja paru-parunya. Hingga pasien tersebut benar-benar dalam keadaan baik, ventilator dihentikan, dan ia bisa kembali membuka sepasang matanya. Mungkin, kesedihan yang sore itu diceritakan olehnya melalui pesan singkat, yang tidak bisa kumengerti, akhirnya kurasakan dan kumengerti hari ini.
Ketika seseorang yang kita sayangi terluka, sakit, dan menangis, sebagian dari hati kita akan turut terluka. Namun kita tidak bisa menjadi lemah bersamanya, kita harus kuat. Kita harus bisa menggenggam tangannya dengan erat, menariknya dengan kuat, dan membuat ia percaya… bahwa sakit bukanlah rasa yang baik untuk dipertahankan. Ketika ia lemah, maka kita harus menjadi kuat. Ketika ia kuat, maka kita harus menjadi seratus kali lebih kuat. Bukan berarti kita tidak boleh bersedih, namun menjadi seseorang yang dapat menarik orang yang kita cintai dari lubang hitam dan memberinya secercah cahaya akan lebih baik daripada turut menyelami kepekatan itu.
Kuperhatikan orang-orang yang berada di sekitarku. Ada beberapa dari mereka yang sedang merengkuh seseorang lainnya, yang menangis sesunggukan, dengan senyum dan genggaman tangan yang erat. Seperti hukum alam, energy yang kuat akan mengalir menuju energy yang jauh lebih rendah. Seperti arus yang mengikuti hukum ohm, arus yang tinggi akan mengalir menuju arus yang lebih rendah. Mereka, orang-orang yang sedang merengkuh, memeluk, dan menggenggam tangan seseorang lainnya dengan erat itu sedang mengalirkan energy yang besar pada seseorang lainnya yang memiliki energy yang lebih kecil. Kekuatan ditularkan melalui sebuah pengertian, melalui sebuah kepedulian. Dan kehadiran mereka ditengah-tengah kesedihan, adalah secercah cahaya dan segumpal kekuatan ditengah-tengah pekat dan kerapuhan.
Drrrrt… Drrrtt… Drrrt…
Aku merogoh isi tasku, menarik keluar sebuah ponsel putih berlayar lebar, melihat layarnya yang memancarkan cahaya dan menampilkan sebuah amplop surat. Sebuah pesan. Aku membukanya, membaca isinya dengan seksama.
Aldi.
Nama pengirim pesan itu Aldi. Kubaca pesan itu sekali lagi, kueja dengan seksama. Lampu. Aldi sedang membahas lampu yang dipesan oleh Fajra beberapa bulan lalu, yang selalu Fajra ceritakan padaku, nama yang ia sebut-sebut sebagai laki-laki yang mengagumkan karena sudah memiliki usaha sendiri walau kecil-kecilan. Tunggu, kecil-kecilan? Ah…, rasanya lampu tidur seharga setengah juta itu bukan bisnis kecil-kecilan.
Aku terdiam sesaat, bingung harus membalas pesan itu seperti apa. Pesan itu bukan untukku, tetapi untuk Fajra yang sekarang terbuai di dalam tidur yang dalam. Aku meraba layar ponsel sahabatku, kemudian kususun sebuah kalimat tanya yang akhirnya kukirimkan ke sebuah nomer dengan pemilik bernama Aldi.
Beberapa menit kemudian, pesan balasan dari Aldi sampai.

 

Aldi (+6285697386211)   
Jadi mau gw anter aja, atau lo yg mau ngambil? Srry lama ya, Ra. Snthan akhirnya agak ribet hehehe…
Received: 10:25: 35 am. 10-06-2014   

 

Aldi…, mungkin Fajra masih ingin bertemu lelaki itu. Ia tak pernah absen menyebut nama lelaki bertubuh jangkung berisi dengan kulit putih dan sepasang mata hitam itu sejak tiga bulan yang lalu. Sejak ia secara tak sengaja melihatnya, mengenal pribadinya yang katanya baik, dan terkagum-kagum dengan aktivitas lelaki itu.
Buru-buru kubalas pesan Aldi dengan memintanya untuk mengantar lampu itu ke rumah sakit ini, mengatakan bahwa aku tidak bisa meninggalkan rumah sakit karena seseorang yang sangat kusayangi sedang sakit. Aldi menyetujuinya, ia berjanji akan datang pukul tiga sore ini.

***

“Billaaaaaa!!” Fajra berlari menuju ke arahku, ia buru-buru menarik kursi kosong di hadapanku. Wajahnya sumringah, matanya berbinar, dan pipinya bersemu kemerahan. Ia mendorong ponselnya lebih dekat denganku, menunjuk benda berwarna putih dengan gantungan bintang-bintang berwarna biru itu dengan dagunya.
“Apaan?” tanyaku tanpa menaruh smartphone hitam kesayanganku.
“Dilihat dulu, Bil. Terus, kasih pendapat lo.”
Aku melirik ponsel berwarna putih dan Fajra yang tersenyum senang bergantian. Dahiku berkerut, dengan cepat kuraih ponsel itu dan kulihat seorang laki-laki bertubuh jangkung sedang tersenyum ke arah kamera.
“Foto siapa nih, Faj?”
“Aldi.”
Aku menatap Fajra yang belum melepaskan tas ranselnya dan masih tersenyum lebar memamerkan deretan giginya. Pasti dia sedang jatuh cinta! Kenapa? Karena aku hanya akan melihat Fajra berekspresi seperti itu jika ia sedang menyukai seseorang dan sudah menjatuhkan hatinya pada orang itu. Kuamati lagi sosok laki-laki di dalam ponsel Fajra; bertubuh tinggi berisi, berkulit putih-tidak terlalu putih, berambut hitam lurus-tercukur rapi, tersenyum dengan senyum yang sama persis seperti senyum Fajra, memiliki sedikit janggut, dan matanya… ah dia menggunakan kacamata hitam, jadi aku tidak bisa melihat warna matanya.
“Lo suka sama nih cowo? Jenggotan kayak gini?”
Fajra mengangguk mantap. Ia meraih ponselnya dari tanganku dan memasukannya ke dalam saku jaketnya. Ia menyandarkan tubuhnya pada punggung kursi, meluruskan kakinya hingga ujung flat shoes-nya menyentuh kakiku. Aku menendang kakinya pelan, membuat ia membulatkan matanya dan menarik kakinya.
“Nggak ada yang lain?” tanyaku lagi.
“Maksud lo yang lain?” Ia melepaskan ranselnya dan menaruhnya di kursi kosong, tepat di sebelahnya. “Jangan ngelihat dari muka doang dong, Bil. Dia tuh istimewa tahu!”
“Istimewa dari mana? Dari jenggotnya?”
“Seksi kali, Bil.”
“Idiiiiiihhhh!!!” sahutku sewot.
Fajra tertawa renyah, ia mengetuk-ngetuk permukaan meja dengan jemarinya. Kemudian menengadah, menatap langit yang sedang dipenuhi oleh gumpalan awan berwarna putih. “Dia itu punya usaha kecil-kecilan sama teman-temannya, Bil. Jualan lampu. Dia juga punya jiwa sosial yang tinggi, baik, ramah, terus suka musik jazz, suka berorganisasi. Awalnya sih gue lihat dia tuh biasa aja, tapi nggak tahu kenapa… lama-lama gue suka. Jadi, gue beli lampu yang dia jual deh.”
“Lampu apaan?”
“Lampu tidur, semacam lampu proyektor yang bisa mantulin bintang-bintang gitu. Kemarin sih dia nawarin yang menara Eiffel gitu, Bil. Tapi gue nggak suka, ah! Kayaknya bagusan bintang-bintang gitu. Terus, dia nyanggupin.”
“Kena berapa?”
“Setengah juta.”
WHAT? Faj, lampu gituan tuh cuma seratus atau dua ratus ribu!”
“Ini bahannya beda, Bil. Bahannya Rattan Owol.”
“Apaan tuh?”
“Rotan, Bil. Rotan.”
“Lo suka sama dia, dan ingin dekat sama dia, sampai bayar setengah juta, Faj? Gila! Kalau dia jodoh lo, nggak usah bayar setengah juta juga ketemu, Faj!”
“Ish, gue emang butuh lampu. Ya…, menyelam sambil minum air aja. Kalau dia jodoh gue, ya syukur. Nggak, yaudah jadi teman aja. Cuma menjalin komunikasi aja sih, tapi kemarin dia nawarin bahan lampion juga.”
“Kertas, dong?”
“Iya, setengah harga rotan.”
“Lo ambil itu aja, Faj! Ngapain beli lampu mahal-mahal, mending lo beliin buku baru.”
Fajra berdecak pelan, ia memajukan tubuhnya sedikit. “Ini beda, Bil. Beda!”
“Iya, beda. Orang dia tukang lampu!”
“Terserah elo deh, Bil. Yang jelas, gue suka sama dia.” Ujar Fajra seraya tersenyum simpul.

***

“Bil…, kayaknya gue nggak mungkin deh bisa sama Aldi. Kita nggak sepadan.” Ujarnya dengan lesu.
Aku mengangkat kepalaku, melihat ia yang sedang terlentang memeluk guling sambil menatap langit-langit yang penuh dengan potongan kertas origami berbentuk bintang. Selalu seperti itu, patah semangat sebelum memperjuangkan cinta. Fajra bukan orang yang mudah jatuh cinta, tetapi ia mudah menyerah untuk mendapatkan cintanya. Ia selalu merasa kalah cantik, kalah anggun, kalah menarik, atau lain-lain yang berkaitan dengan fisik. Padahal, Fajra termasuk dalam katagori manis. Badannya juga berisi, tidak gendut, tidak kurus. Hanya saja, Fajra tidak seperti perempuan kebanyakan yang rajin pergi ke salon, atau bahkan melakukan perawatan di rumah.
“Kenapa sih, Faj?” tanyaku tanpa berhenti mengerjakan tugas.
“Dia itu ganteng, kata orang-orang. Nah gue, lo lihat kan gue kayak apa? Tapi…, bukan itu sih yang bikin gue ngerasa nggak sepadan sama dia.”
“Terus apaan? Kan lo sendiri yang bilang, apapun kekurangan kita, jangan sampai hal itu menutup mata kita untuk melihat semua kelebihan yang ada di diri kita. Gimana sih, Faj? Lo yang bilang sendiri, tapi lo juga yang lupa.”
“Bukan gitu, Bil. Kemarin nggak sengaja gue lihat instagram dia, terus gue lihat di sana ada foto dia sama cewe. Beberapa foto, dengan cewek yang sama, cuma berdua aja. Cantik banget, Bil! Putih, modis, pipinya bersemu kemerahan, bibirnya warna pink, langsing… aaarrgghh, kita nggak mungkin kayak gitu deh, Bil.”
“Kita? Lo yang nggak mungkin kayak gitu.” Ralatku.
“Iya, iya! Gue yang nggak mungkin kayak gitu.”
“Lo nyalon gih, Faj.”
“Ogah!” sahutnya sewot.
“Daripada nyalon, mending gue bertapa di dalam rumah selama seminggu.” Lanjutnya.
Bertapa, maksud Fajra bertapa bukanlah berdiam diri, berpuasa, memejamkan mata selama berbulan-bulan untuk mendapatkan wangsit. Bertapa untuk Fajra memiliki arti berbeda, untuknya kata itu berarti berdiam diri di rumah, tidur, membaca buku, memasak cemilan dan makanan favoritnya, bermalas-malasan di atas sofa sambil menonton kartun favoritnya. Ya! Di usianya yang menginjak dua puluh satu tahun, Fajra masih suka menonton kartun. Ia bisa tertawa terbahak-bahak melihat anak kecil yang berteman dengan seekor beruang berbahasa rusia, menggerutu karena kelakuan seekor kadal yang berusaha mencuri sebutir telur ayam, atau bahkan mengomentari mahluk laut berwarna kuning yang ceritanya diulang-ulang sampai dia hafal.
“Terus lo maunya gimana, Faj?”
“Ah.., udahlah, Bil. Gue pasrah aja, biarin Tuhan aja yang ngatur. Gue jalanin aja scenario yang ada, hasilnya biar jadi keajaiban.”
“Bahasa lo.” Kutimpuk ia dengan tissue yang sudah diremas-remas.
Ia tertawa renyah, selalu tertawa apapun keadaannya. Tapi ia benar, biar saja Tuhan yang mengatur semuanya. Biarkan keajaibanNya mempertemukan mereka dengan cara yang indah, yang akan lebih baik karena Tuhan tidak pernah salah.

***

Dengan langkah panjang kuhampiri laki-laki bertubuh jangkung, sama persis seperti laki-laki yang kulihat di foto dalam layar ponsel Fajra beberapa jam yang lalu. Ia sedang bersandar pada sebuah sedan berwarna hitam yang terparkir parallel di parkiran rumah sakit. Ketika aku sampai di hadapannya, aku menanyakan namanya dan menanyakan lampu yang sudah dipesan oleh Fajra.
Sorry…, lo siapanya Fajra? Kenapa bukan Fajra yang nemuin gue? Tadi siang, dia masih ngehubungin gue.” Tanyanya hati-hati.
Aku terhenyak. Kuhela napas perlahan, kutatap matanya dalam-dalam. Jadi, warna matanya hitam pekat. Jantung Fajra pasti akan berdetak sangat cepat jika menatap sepasang mata lelaki ini, dan telapak tangannya akan terasa dingin. Kalau Fajra yang berdiri di hadapan lelaki ini, aku yakin, ia akan terus menerus mengulum senyum.
“Fajra ada di dalam. Lo mau ketemu sama dia?”
“Boleh. Sorry ya, bukan gue nggak percaya sama lo. Gue cuma mau memastikan kalau pesanannya sampai ke tangan Fajra.”
Aku tersenyum kecut. “Nggak apa-apa, Di.”
Aku penasaran pada reaksi Aldi ketika melihat Fajra yang terbaring koma dengan selang dan kabel warna-warni yang menempel di tubuhnya. Apakah laki-laki itu akan terdiam, atau bahkan ia akan mendekati Fajra dan menggenggam tangannya dengan erat. Ah…, kalau saja semua yang kuuinginkan bisa terwujud dengan sekali ucap, aku ingin membuat lelaki bertubuh jangkung ini jatuh cinta pada sahabatku. Mengecup lembut bibirnya, dan membuat Fajra terbangun dari tidurnya yang sangat nyenyak.
Aku melangkah masuk ke dalam gedung beraroma obat yang sudah ramai dengan pengunjung yang memiliki keluhan kesehatan berbeda, Aldi membuntut. Ia hanya diam, menatap sekeliling dan sesekali tersenyum ketika mataku bertumbukan langsung dengan matanya. Fajra benar, Aldi adalah sosok yang membuat orang melihat dan berada di sampingnya merasa nyaman. Ia laki-laki yang hangat, ramah, dan baik. Aku baru memahami alasan Fajra menyukai lelaki ini ketika aku mulai berbicara dengannya, tentang apa saja, yang seharusnya tidak ditanyakan pada seseorang yang baru kukenal.
“Fajra…” Ia menatapku, kemudian mengalihkan pandangannya pada papan hijau yang menggantung di atas langit-langit bertuliskan nama ruangan yang akan kami tuju.
“Dia di ICU?” lanjutnya.
Aku mengangguk, “Sudah sebulan.”
Aku tertegun ketika melihat sorot mata Aldi yang tiba-tiba meredup, kunci mobil yang dipegangnya tiba-tiba jatuh. Ia mengulum senyum, senyum yang nampak dipaksakan. Ketika ia membungkuk, aku menyadari bahwa bukan hanya aku yang terkejut mendapatkan kabar Fajra sakit. Ia tidak pernah mengeluh, tidak pernah berkata bahwa salah satu bagian tubuhnya terasa sakit. Ia hanya akan mengatakan ia sedang tidak enak badan, lalu tertawa keras dan berjingkat menunjukan bahwa ia baik-baik saja.
“Fajra nunggu lo, Di. Dia…” aku teringat pada kalimat Fajra beberapa waktu lalu. Ia bilang, jika saja Aldi datang ke rumah dan memintanya untuk menjadi isteri lelaki itu, ia akan mengiyakannya tanpa pikir panjang lagi. Lampu hanya objek yang menghubungkannya dengan Aldi, hanya sebuah alasan busuk yang bisa membuatnya terus bertukar kabar dengan lelaki itu.
“Dia apa?”
Aku menggeleng kecil. Kulanjutkan langkahku menuju ruangan Fajra, membiarkan suara-suara berat perempuan bermata cokelat itu mengisi seluruh indera pendengaranku. Aku mengingat setiap pujian yang dilontarkan Fajra untuk Aldi, setiap kekaguman yang tersirat di wajahnya setiap kali melihat foto lelaki itu. Fajra dengan gamblang mengatakan bahwa ia bersedia menjadi isteri lelaki itu jika memang lelaki itu mau menjadi suaminya. Dan aku masih mengingat getar di dalam suaranya yang penuh kekecewaan ketika ia tahu Aldi sudah memiliki kekasih. Sehebat apapun Fajra menyukai Aldi, ia tidak pernah ingin merebut lelaki itu dari kekasihnya. Ia bilang, lebih baik menjadi seorang pengagum yang berbahagia karena melihatnya bahagia, daripada menjadi seseorang yang memiliki tetapi menyakiti hati yang lainnya.
Klise.
Saat Fajra mengatakan itu, aku terbahak dan habis-habisan mengatakan bahwa itu tidak mungkin. Ia terlalu naif, munafik, atau bahkan hal-hal lain yang ia tanggapi dengan senyuman lebarnya. Tetapi hari ini, ketika Aldi berada di depanku dan aku teringat pada sahabat baikku, aku merasa bahwa ia benar. Bagaimana kita bisa mencintai dengan baik, jika kita harus melukai orang lain untuk mendapatkan cinta itu?
Aldi terdiam sesaat di depan pintu kamar ganti, di sudut ruangan. Untuk masuk ke ruang ICU, para pengunjung memang diharuskan untuk mengganti baju atau memakai baju khusus yang disrtai dengan masker dan penutup kepala seperti topi mandi. Tangannya gemetar ketika memutar gagang pintu, mendorong daun pintu ke dalam, kemudian melangkah masuk dan menutup pintu dari dalam. Aku memakai pakaian berwarna hijau lengkap dengan masker dan penutup kepala seperti Aldi. Mataku tak bisa lepas dari lelaki bertubuh jangkung itu. Ia seperti sebuah magnet yang terus menerus menarikku untuk mengamatinya, membaca setiap guratan di wajahnya.
“Ini Fajra, Di. Sahabat terbaik yang pernah gue miliki.” Ujarku setelah kami terdiam cukup lama di depan Fajra yang terbaring tak sadarkan diri di atas ranjang rawatnya.
Aldi tersenyum getir, ia melangkah lebih dekat pada Fajra. Tangannya gemetar ketika menyentuh kening perempuan berkulit kuning langsat itu, mengusapnya perlahan. Aku melihat sepasang mata pekat itu berkaca-kaca, memerah. Kalau boleh kutebak, mungkin lelaki itu merasakan perih yang sama seperti ketika pertama kali aku tahu, sahabatku terbaring tak sadarkan diri. Tetapi jika Fajra hanya orang lain untuk Aldi, bagaimana bisa semua ini turut menyakiti hatinya? Ah… Tuhan, betapa rahasia yang kau simpan begitu besar.
“Ada satu hal yang mungkin harus lo tahu, Di. Tentang lampu tidur itu…” Kutatap wajah pucat Fajra, ia terlihat sangat damai dalam tidurnya. Jika saat ini jiwa Fajra berada di sekitarku dan mendengar apa yang kuucapkan, mungkin ia berusaha mencegahku mengatakan kalimat selanjutnya. Tapi aku hanya ingin lelaki itu tahu yang sebenarnya, aku hanya ingin Aldi menyadari kehadiran Fajra di dalam hidupnya.
“Fajra tidak terlalu membutuhkannya. Dia memesan lampu itu agar dia bisa lebih dekat dengan laki-laki yang dia suka, laki-laki itu… lo. Nggak peduli berapa lama lampu itu akan jadi, nggak peduli sesingkat apa lo membalas pesannya, dia akan tetap menyukai lo. Gue pernah bilang sama dia, untuk merebut lo dari pacar lo sekarang, tapi dia bilang, dia hanya ingin menjadi orang yang berbahagia atas kebahagiaan lo dengan tidak menyakiti orang lain. Buat dia, lo mau menerima dia sebagai teman saja sudah cukup. Mungkin untuk lo semua ini nggak penting, tapi untuk gue ini sangat penting. Gue ingin mengungkapkan apa yang nggak bisa diungkapkan oleh Fajra. Selama apapun lo membuat lampu itu, dia akan menunggu. Sesingkat apapun pesan dari lo, dia akan tetap tersenyum. Sesakit apapun hatinya setiap melihat foto lo bersama perempuan itu, dia akan tetap merasakan bahagia. Buat dia lo adalah kebahagiaan, apapun yang lo lakukan nggak akan pernah merenggut kebahagiaan dari hatinya. Kecuali satu, Di. Lo meminta dia untuk berhenti mencintai lo.”
Aku melangkah cepat keluar ruangan. Hatiku dirambati ngilu, banyak pengandaian yang muncul di dalam kepalaku. Jika Fajra sedang tidak dalam keadaan koma, dia pasti akan menutup mulutku dengan telapak tangannya. Tetapi perempuan itu koma, ia tidak bisa merespon semua ucapan orang-orang disekitarnya. Hanya sesekali terjadi gerak reflex yang menurut para dokter bukan sebuah keajaiban. Meski begitu, aku percaya Fajra mendengarkan semua kalimat dan percakapan kami. Bahkan mungkin ia menjawabnya, hanya saja jawaban itu terlalu pelan untuk dapat didengar.
“Faj…, mimpi hanya akan menjadi sampah di atas tumpukan bantal jika tidak dilakukan. Saat lo nggak bisa melakukan sesuatu untuk mewujudkannya, maka gue yang akan melakukannya untuk lo. Kita hanya perlu berusaha, Fajra. Biar hasilnya menjadi keajaiban dari Tuhan. Saat lo nggak bisa mengatakan bahwa lo mencintai laki-laki itu, maka gue yang mengatakannya. Karena gue adalah suara saat lo nggak bisa bicara.”

Waktu

Bukan aku yang tak mau menunggu, tetapi waktu yang merampas kesempatan itu darimu…

aa

Perempuan berkulit cokelat itu duduk bersila di atas rumput sambil memakan permen kapas berwarna merah muda yang baru saja berpindah ke tangannya. Di samping perempuan itu, duduk laki-laki bertubuh tinggi dengan kulit putih bersih, meneguk air mineral dari dalam botol 600ml. Mereka diam, menatap lurus pada puncak Monumen Nasional yang berlapis emas.

“Kira-kira, udah berapa lama ya kita nggak ketemu, Tong?” tanya perempuan itu tanpa mengalihkan pandangannya.

Laki-laki berkulit putih itu tersenyum, “Empat tahun.”

“Lama atau sebentar?” Tanyanya lagi, kali ini ia menatap lawan bicaranya.

“Yaaa…, lumayan lah. Dari setelah kamu wisuda, baru ketemu lagi hari ini.”

Perempuan itu mengangguk-angguk kecil.

“Nggak nyangka, bisa ketemu Otong di sini.” Gumamnya.

Lelaki yang dipanggil Otong itu tertawa kecil, merasa tak asing dengan perempuan di sebelahnya. Setelah bertahun-tahun berpisah, tidak pernah bertukar kabar, ia bertemu dengan perempuan itu di tempat favoritnya dan mendapati dia masih sama dengan beberapa tahun yang lalu. Masih memanggilnya dengan nama yang sama, masih berbicara dengan gaya yang sama, dan masih memakai ransel ke mana-mana.

“Gimana kerjaan kamu, lancar?”

“Alhamdulillah, lancar. Kalau kamu?”

“Lancar jaya sentosa. Hehehe…”

Otong ikut tertawa mendengar jawaban perempuan yang dipanggilnya dengan sebutan ‘Neng’ itu. Sebutan yang tidak pernah bisa lepas darinya, sebutan yang hanya ia gunakan untuk memanggilnya. Oneng. Jika mengingat bagaimana ia bisa memanggil perempuan itu dengan sebutan Oneng, dan bagaimana perempuan itu memanggilnya dengan panggilan Otong, kedua ujung bibirnya akan tertarik ke dua arah yang berbeda.

***

Jakarta, Februari 2012

“Tony Ardiwijaya! Aku bilang juga apa, hari ini presentasi kimia klinik. Kelompok kita maju, materinya Autoclave.” Perempuan berkulit cokelat dalam balutan kemeja berwarna putih tulang itu menyodorkan lembaran kertas yang dijepit menggunakan papper clip berbentuk kepala panda warna kuning.

“Emangnya kita kelompok berapa? Terus ini kertas apa?”

“Kelompok enam. Hari ini semua materi dihabisin karena minggu depan kita udah UTS, jadi sisa kelompok kemarin yang belum maju, maju semua. Itu kertas isinya materi presentasi kita, kamu pasti belum belajar di rumah. Pelajari, biar nanti presentasi kamu ngerti.”

Tony, laki-laki bertubuh tinggi itu membolak-balik kertas yang diterimanya. Ia mendongak, menatap perempuan yang berdiri di hadapannya, yang juga sedang sibuk membaca lembaran kertas yang sama.

“Kamu belum belajar?” Tanya lelaki itu seraya menggeser duduknya.

Perempuan itu menggeleng kecil, masih membaca materi presentasinya.

“Kenapa nggak belajar? Mentang-mentang udah bikin power point Autoclave, jadi nggak belajar lagi?”

“Sembarangan!” sahut perempuan itu galak, ia duduk di samping lelaki itu. “Semalam aku mau belajar, tapi kata kamu nggak usah belajar kan besok kelompok kita nggak presentasi. Bodohnya aku, nurut lagi sama kamu.”

Tony tertawa kecil, ia menepuk lembut pipi tembem perempuan itu dengan gulungan kertas ditangannya. “Oneng! Udah tahu aku salah, masih diikutin.”

“Namaku bukan Oneng, namaku Xena. X-e-n-a. Xena!”

“Iya, Xena Zelda. Prajurit wanita yang rendah hati, tapi Oneng.”

Xena memicingkan matanya, ia menatap Tony yang sedang tertawa meledeknya seperti menatap nyamuk yang baru saja menghisap darahnya. Perempuan itu menggulung lengan kemeja panjanganya, kemudian. Ciaaaaaat! Ia sudah mencubit lengan lelaki itu dengan gemas.

“Otong! Otak kosong!”

***

Otong mengulum senyum, membuat perempuan di sebelahnya mengkerjap-kerjapkan mata. Menyadari ekspresi aneh perempuan itu, Otong menghela napas panjang. Ia menelan ludah, mencoba membasahi kerongkongannya yang terasa kering.

“Kamu masih ingat nggak, kenapa waktu itu aku manggil kamu Oneng?”

Perempuan itu mengerutkan dahi, mencoba mengingat-ngingat alasan Otong mengganti nama cantiknya menjadi Oneng, nama yang entah memiliki arti apa. Xena Zelda, sebuah nama cantik yang berasal dari dua bahasa. Xena diambil dari bahasa Yunani yang berarti rendah hati, sedangkan Zelda diambil dari bahasa Jerman yang berarti prajurit wanita. Orangtua Xena memberikan nama itu dengan harapan Xena bisa menjadi perempuan yang tangguh dalam menghadapi hidup, dan rendah hati dalam bersikap. Tetapi entah mengapa, setahun setelah mengenal Otong, nama cantiknya berubah menjadi Oneng.

“Karena aku kadang-kadang suka nggak nyambung sama omongan kamu.” Tebak perempuan itu.

Lagi-lagi, lelaki itu tersenyum.

“Bukan.” Sahutnya

“Bukan karena itu, tapi karena kamu nggak bisa membedakan mana yang harus kamu ikutin dan mana yang nggak harus kamu ikutin. Terus kamu ingat, kenapa kamu manggil aku Otong?”

“Ingat! Karena otak kamu kosong. Hehehehe…”

“Nama bagus-bagus, diganti jadi Otong.”

“Ton…” panggil Xena pelan. Lelaki itu menoleh, menatap langsung pada sepasang mata Xena yang berwarna cokelat muda. “Otong itu dari bahasa betawi, artinya abang. Kakak laki-laki.”

***

“Kamu kenapa, sih? Manggil aku Otong? Emangnya aku tong sampah? Otak aku kosong banget?”

“Ih…, kok kamu ngambek sih?”

“Habisnya, nama bagus-bagus, Tony Ardiwijaya, diubah jadi Otong.”

“Hahaha…, kamu mah mikirnya jelek mulu sih sama aku. Otong tuh artinya abang. Karena kamu lebih tua dari aku, jadi aku manggil kamu Abang. Tapi berhubung kata Abang itu pasaran, pake Otong aja. Biar kamu inget terus sama aku, anggap aja nama kesayangan dari aku.”

“Ooh…, aku pikir itu nama nggak ada artinya.”

“Hahaha…, kamu mah kadang-kadang gitu sih, pundungan.” Xena menjulurkan lidahnya, membuat Tony mencubit pipi perempuan itu hingga memerah.

“Aku nggak pundungan, ya!”

“Iiiishh, iya iya! Kamu nggak pundungan, lepasin! Sakit tahu.” Ringisnya.

Xena mengusap-usap pipinya yang merah setelah Tony melepaskan cubitannya. Lelaki itu mengucak lembut puncak kepala Xena.

***

“Hahahaha…, gara-gara kamu pipi aku jadi kayak bakpao!” Xena menggembungkan pipinya, membuat lelaki disampingnya semakin tergelak.

“Terus waktu itu kamu cemberut melulu, bikin aku ngerasa bersalah. Tapi habis disogok pakai es krim vanilla bertabur choco chips, langsung sumringah.”

Xena ingat, sore itu setelah Otong mencubit pipinya hingga terasa perih, Otong membelikannya es krim vanilla bertabur choco chips dengan saus cokelat di bagian atas yang membuat kekesalannya pada Otong hilang seketika. Ketika itu, Otong tidak memesan es krim. Ia hanya memesan segelas kopi hitam, menyesap cairan pekat itu perlahan-lahan tanpa mengalihkan pandangannya dari Xena yang sibuk menyendok isi mangkuknya.

“Es krim favorit aku.”

“Nggak boleh makan banyak-banyak, nanti mual.”

Xena menggigit permen kapasnya yang mulai mengecil terkena angin. Sesuatu dalam dadanya bergejolak, matanya menjadi berkaca-kaca. Ia tidak pernah menyangka Otong… ah, Tony masih mengingat hal-hal kecil yang bersangkutan dengannya. Ia pikir, setelah lelaki itu menyerah padanya, semua hal tentang dia turut terlepas dari dalam kepalanya.

“Kamu masih ingat aja, Tong.”

Senyum di wajah Tony langsung memudar ketika ia mendengar suara itu, suara yang bergetar dan tertahan. Suara yang selalu bisa membuatnya terdiam begitu lama, atau bahkan ingin berlari pergi karena tak mampu melihat air mata yang akan membasahi pipi. Lelaki itu menghela panas berat, meluruskan kakinya dan mencondongkan tubuhnya ke belakang, menompangnya dengan kedua tangannya.

“Aku… salah ngomong ya, Neng?”

Buru-buru Xena menggelengkan kepalanya, ia menoleh. Kemudian melempar senyum pada Tony dan kembali menatap obor Monumen Nasional yang berlapis emas.

“Aku terharu aja, kamu masih ingat hal-hal itu. Nggak nyangka.”

“Kamu pikir, aku lupa itu semua?”

“Iya, aku pikir kamu lupa kalau aku pernah ada.”

Deg!

Kalimat itu menohok hatinya. Mereka berdua saling diam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Sesak mulai memenuhi hati keduanya, perlahan rasa sakit itu muncul ke permukaan. Tony mengepalkan tangannya, bertanya pada bagian lain dalam dirinya; apakah ini waktu yang tepat untuk menjelaskan semuanya?

Disaat yang bersamaan, Xena mencoba menahan perasaannya. Ia tidak ingin merusak suasana, walau sebenarnya suasana yang semula kaku kini menjadi lebih parah karena kalimat yang baru saja keluar dari mulutnya. Sulit untuk Xena bersikap biasa saja di hadapan Tony karena degup jantungnya masih sama, masih lebih cepat dari biasanya setiap kali ia berdekatan dengan lelaki itu. Xena masih tidak mampu menatap sepasang mata hitam tajam lelaki itu, masih harus menunduk untuk menyembunyikan perasaan yang sebenarnya.

“Aku nggak mungkin lupa, Xen. Selama beberapa semester, setiap pukul lima pagi, handphone aku bunyi. Itu telepon pertama dari kamu yang minta aku untuk bangun dan shalat. Pukul enam atau setengah tujuh, ada telepon kedua dari kamu yang ngingetin aku dan ngajak aku untuk kuliah. Sampai kadang kamu terus kirim pesan ke ponselku nanya keberadaan aku, karena kamu khawatir aku nggak juga sampai di kampus.  Sorenya, aku yang menelpon kamu. Memastikan kamu sudah bangun dari tidur siang atau belum, ngingetin kamu untuk mandi dan shalat magrib, padahal aku juga belum mandi.”

“Malamnya, kita sama-sama ngingetin jangan lupa makan. Biasanya setelah makan malam, kamu ngemil kripik kentang sambil nonton animasi kambing konyol yang bergerombol itu. Kata kamu, kambing itu lucu. Kadang juga kamu nggak bisa tidur, sampai pukul dua pagi. Kadang aku yang nemenin kamu sampai tidur, kadang aku yang ketiduran dan ninggalin kamu melek sendirian. Kamu kadang marah kalau aku kebanyakan begadang, padahal kamu juga begadang. Kadang kamu bisa bikin aku ketawa Cuma gara-gara baca sms kamu, kadang kamu bisa bikin aku benar-benar nggak bisa tidur karena khawatir. Kamu ingat nggak, dulu waktu aku pulang naik angkutan umum, terus kamu sms aku yang isinya; ‘Ya Allah, tolong jagain Aa ikan. Biar nggak ada yang nyolek-nyolek dia di angkot.Aamiin. Kalau ada yang colek-colek kamu, kamu teriak aja ya.” Konyol! Tapi kamu bisa bikin aku ketawa sampai aku dilihatin sama ibu-ibu di dalam angkot. Dan kamu juga berhasil bikin aku panik setengah mati, waktu kamu bilang bus yang kamu naikin udah berangkat sedangkan Bunda belum naik, dan kamu sudah di dalam. Kamu udah minta supirnya untuk berhenti, tapi bus itu tetap jalan. Sampai kamu mau nangis, dan aku nggak fokus nyetir sampai Abang aku gantiin aku. Waktu itu aku takut, khawatir. Nggak lama, kamu sms aku lagi, dan kamu kegirangan kalo aku khawatir. Kamu bilang; ‘Asiik… Otong khawatir.’ Tapi waktu itu aku lega. Kamu baik-baik aja.”

Xena menyeka ujung matanya yang basah. Perasaannya membuncah, jantungnya berdegup semakin cepat. Ia memaksakan sesungging senyuman, mencoba untuk menekan perasaannya dalam-dalam. Semua yang diceritakan Tony benar, ia juga tertawa geli ketika mengirimi sms yang meminta lelaki itu untuk berteriak jika ada yang mencolek- coleknya. Ia juga merasa takut ketika bus yang akan membawanya ke Solo berangkat lebih awal dari jadwal yang tertera di tiket, dan ia merasa lega ketika Tony menenangkannya.

“Neng, kalau kamu berpikir aku lupa sama kamu, kamu salah. Aku…”

“Apa gunanya sih kamu ngomong ini semua ke aku?” Sela Xena.

“Aku udah nggak butuh penjelasan kamu, Ton.” Lanjut perempuan itu pelan.

Tony menghembuskan napas kencang, mencoba membuang serta sesak di dadanya. Ia mengerti jika Xena merasa penjelasannya sudah tidak penting lagi. Toh, semua itu sudah tertumpuk oleh peristiwa baru. Sudah menjadi kenangan yang mungkin terlupakan. Ia tidak bermaksud melukai Xena, pun membuat perempuan itu bersedih. Dia hanya ingin memperbaiki semua yang dulu dirusaknya, hanya ingin menjelaskan apa yang memang seharusnya ia jelaskan.

“Aku nggak pernah bermaksud melukai kamu, Neng.”

“Tapi dengan kamu menghindari aku itu udah ngelukain aku!”

***

“Xen, Tony ke mana? Kok seminggu ini dia nggak ngampus?” Rasya mengampiri Xena yang sedari tadi menatap layar ponselnya.

Perempuan berambut ikal sebahu itu mengedikan bahu. Wajahnya keruh, lingkaran hitam di sepasang matanya membuatnya terlihat seperti panda berwarna cokelat. Rasya yang mengetahui kedekatan Xena dan Tony memeluk perempuan itu dan mengusap lengannya lembut.

“Lo udah coba sms dia? Atau telpon dia, gitu?”

“Udah, Sya. Tapi nggak ada balasan atau dia telepon balik. Gue takut dia kenapa-napa. Sakit atau apa…”

“Kita berdoa semoga dia baik-baik aja, Xen.”

“Aamiin.”

Sudah seminggu, Xena tidak mendapat kabar dari Tony. Setiap kali di-sms, Tony tidak membalas. Setiap kali ditelepon, tidak diangkat atau handpone-nya mati. Dihubungi melalui media sosial, tidak ada balasan. Xena khawatir, takut terjadi sesuatu yang buruk pada lelaki itu. Xena yang memang pada awalnya insomnia, menjadi semakin susah tidur. Tidak fokus pada kuliahnya, menjadi mudah lelah.

Seminggu setelahnya, Tony kembali kuliah. Tetapi lelaki itu menghindari Xena, ia hanya bicara seperlunya saja dan tidak lagi mengabari Xena. Ia hanya bersama Xena ketika kelas dimulai, dan setelah itu ia menghilang entah ke mana. Xena yang tidak mengerti pada perubahan Tony menjadi semakin bertanya-tanya dan menduga-duga.

“Ton, gue dengar lo lagi dekat sama anak jurusan sebelah, ya? Siapa namanya? Sitta?” tanya Raka di dalam kelas ketika mereka sedang membahas materi Jantung untuk mata kuliah anatomi dan fisiologi.

Gerakan Xena yang merangkum poin-poin penting dari buku bersampul merah-putih itu tertahan, genggaman pulpen-nya semakin kuat. Xena mendehem kecil, kemudian melanjutkan kegiatan merangkumnya tanpa mengangkat wajah. Dari ekor mata, Xena melihat Tony tersigap ketika Raka bertanya demikian dan langsung melihat pada Xena. Xena menahan perasaannya, ia terkejut. Tentu saja. Namun ada satu hal lain yang terasa asing terbit di dalam dadanya.

Rasa sakit, yang menjalar tiba-tiba.

***

“Kamu risih dekat-dekat sama aku ya, Ton? Karena aku nggak cantik, aku nggak keren, nggak kaya, nggak suka nongkrong di tempat-tempat biasa kamu dan teman-teman kamu nongkrong, ya? Kamu… malu dekat sama aku?” tanya Xena hati-hati.

“Nggak.” Tony menunduk, tersenyum kecut. “Nggak sama sekali, Neng.”

“Waktu itu aku khawatir sama kamu, Ton. Takut kamu sakit, takut kamu kecelakaan, takut kamu nggak lulus, takut ada kata-kata aku yang melukai kamu. Aku coba untuk intropeksi diri, mengingat-ngingat semua kalimat aku. Tapi yang aku tahu, kita baik-baik aja. Kita nggak ada masalah, terakhir kali kita komunikasi, kamu masih ketawa-ketawa. Tapi kenapa tiba-tiba kamu ngehindar dari aku? kenapa tiba-tiba kamu beda? Kamu bilang, nggak ada yang beda. Semua sama aja, mungkin itu perasaan aku aja. Aku percaya, itu perasaan aku aja. Sampai akhirnya kamu bilang sama aku, jangan urusin kamu lagi. Urus aja diri aku sendiri. Dan saat itu juga, aku merasa bodoh. Bodoh banget, malu sama diri sendiri, malu sama kamu. Aku nggak sadar, Ton. Aku nggak sadar kalau ternyata sejak kamu menghidar dari aku, aku bukan lagi bagian dari hidup kamu. Aku nggak seharusnya mengkhawatirkan kamu. Dan seharusnya aku sadar, kehadiran aku menganggu kamu. Setiap kali kamu nggak kuliah dan dosen kita nanya kamu ke mana, setiap kali ada tugas, setiap kali kita ada kerja kelompok, aku ngabarin kamu. Sama sekali nggak ada maksud untuk mencari perhatian kamu lagi, hanya ingin menjadi teman yang baik selayaknya teman biasa. Tapi waktu itu kamu bilang, kamu nggak butuh lagi informasi dari aku.”

Xena mengusap air matanya. Wajah perempuan itu sembab, bahunya berguncang pelan. Ia lebih banyak menunduk atau menengadah daripada menatap Tony secara langsung. Ia tidak sanggup menatap sepasang mata lelaki itu, ia tidak ingin Tony mengetahui bahwa ia masih menyimpan perasaan itu. Ia tidak bisa berbohong jika ia menatap sepasang mata tajam lelaki itu. Ia tidak bisa untuk tidak menangis jika menatap wajah lelaki itu.

“Aku… Aku minta maaf, kalau ternyata selama itu aku mengganggu kamu.” lanjut Xena.

“Kamu ingat nggak, Neng? Dulu aku pernah bilang sama kamu kalau aku nggak mungkin suka sama kamu dan sayang sama kamu lebih dari sekedar teman. Aku nggak mau dibilang nikung teman sendiri. Buat aku pertemanan lebih penting. Ingat?”

Xena mengangguk, membuat buliran air mata membasahi punggung tangannya.

“Kenyataannya aku sayang sama kamu, lebih dari teman. Aku nggak bisa bilang sama kamu, aku nggak bisa tanya perasaan kamu ke aku gimana. Aku nggak bisa ngelukain teman aku sendiri, Neng. Aku nggak bisa ngerebut kamu dari Chandra.”

“Kamu nggak mau, Ton. Bukan nggak bisa.”

“Iya. Aku nggak mau, aku nggak mau melukai sahabat aku, nggak mau mencoba untuk memperjuangkan kamu. Maafin aku, Neng.”

“Aku nggak ngerti, Ton. Aku… aku nggak paham buat apa kamu bilang sayang sama aku setelah bertahun-tahun kamu menghindari aku? Apa gunanya?”

“Aku mau kamu tahu, Neng. Semua yang aku lakukan saat itu bukan karena aku membenci kamu, tapi karena aku sayang sama kamu.”

“BUAT APA? Buat apa kamu bilang kamu sayang sama aku hari ini sedangkan rasa sayang itu sudah terkubur lima tahun yang lalu? Buat apa kamu datang dan menjelaskan ini semua ke aku? Biar aku bahagia? Nggak ada gunanya lagi kamu bilang kamu sayang sama aku, Ton. Nggak ada gunanya kamu bilang sayang sama aku, kalau aku nggak bisa bersama kamu dan kamu nggak mau memperjuangkan aku!”

Xena bangkit dari duduknya. Ia meraih tas ransel berwarna cokelat kayu berukuran sedang dan mencangklongnya di atas pundak.

“Perasaan aku ke kamu sampai hari ini nggak berubah. Tapi aku nggak bisa hidup sama orang yang nggak mau memperjuangkan aku. Makasih sudah menjelaskan semua sikap kamu yang menyakiti aku lima tahun yang lalu, aku paham.”

“Neng!” panggil Tony pelan.

Xena menoleh, menatap sepasang mata tajam yang sudah memerah dan berair. Mata itu menatap jauh ke dalam mata Xena, mencoba menemukan kejujuran di sana. Lelaki itu ikut bangkit dari duduknya, berdiri di hadapan Xena yang sudah mencangklong tas ranselnya.

“Aku menjelaskan semua itu nggak bermaksud untuk…”

“Melukai aku? Iya, kan? Kamu nggak pernah bermaksud melukai aku, tapi semua yang kamu lakukan itu menyakiti aku, Ton! Aku sayang sama kamu, tapi ka….” Xena membungkam mulutnya sendiri. Ia sudah tidak bisa menahan tangisnya.

“Kamu nggak benar-benar sayang sama aku.” lanjut perempuan itu.

“Aku sayang sama kamu, Neng.”

“Bohong! Kalau kamu sayang sama aku, kenapa kamu nggak mempertahankan aku kayak kamu mempertahankan Shinta? Kenapa kamu menyerah dan melepaskan aku, Ton? Kenapa?”

Shinta. Perempuan yang sudah menjadi kekasih Tony selama dua tahun, yang selalu memenuhi lini masa lelaki itu. Xena tak sengaja menemukan lini masa Tony dan kemudian tertarik untuk membukanya. Ketika melihat lini masa itu ia tersenyum, terkenang lelaki bermata tajam itu. Shinta cantik, juga perhatian pada Tony. Ia tidak lagi merasa khawatir dengan lelaki itu, ia yakin Shinta bisa mengurus dan merawat Tony dengan baik. Ia juga percaya, Tony saat ini baik-baik saja.

Tetapi hari ini, ketika ia bertemu dengan Tony, rasa bahagia karena bertemu dan berbincang lagi dengannya musnah. Rasa sakit terus berputar di dalam hatinya. Ia bertanya-tanya, mengapa baru hari ini? Mengapa baru sekarang? Mengapa tidak lima tahun yang lalu? Atau empat tahun yang lalu sebelum ia diwisuda?

“…”

“Kamu nggak bisa jawab, kan? Kamu bertekad untuk membuat laki-laki yang menunggu Shinta menyesal karena sudah menunggu dia, perempuan yang nggak akan pernah kamu lepaskan. Kamu masih bisa bilang kamu sayang sama aku? Sayang sama aku sejak lima tahun yang lalu? Ton, kamu melepaskan aku untuk laki-laki lain. Kamu membiarkan aku berpikir, kamu membenci aku dan aku adalah pengganggu di hidup kamu. Kamu…”

Tony mengusap air mata di wajah Xena, membuat perempuan itu terdiam seketika. Lelaki itu menyeka sisa-sisa air mata di wajah Xena, merapikan rambutnya dan menyelipkannya di balik telinga.

“Neng, ada banyak hal yang perlu kamu tahu. Tapi kalau itu semua malah menyakiti kamu, lebih baik kamu tidak tahu sama sekali. Aku bilang aku sayang sama kamu hari ini, bukan karena aku ingin membuat kamu sakit. Aku gak ingin lagi kamu berpikir bahwa kamu adalah penggangu di hidup aku, Neng. Aku nggak mau lagi kamu merasa bersalah, dan membuat kamu menghindar dari aku. Aku tahu gimana rasanya menghindar, gimana rasanya mencintai tapi nggak bisa memiliki, aku tahu… gimana sakitnya kehilangan. Aku banyak menyakiti kamu, membuat kamu menangis bahkan ketika aku nggak mau melakukan itu. Maafin aku ya, Neng. Aku nggak bisa mencintai kamu dengan cara yang benar, yang bisa membuat kamu bahagia. Kamu benar, kalau aku mencintai kamu, nggak seharusnya aku melepaskan kamu untuk orang lain. Tapi satu hal, Neng… Nggak ada satu orang pun yang nggak ingin orang yang dicintainya bahagia. Termasuk aku. Aku ingin kamu bahagia. Biarpun kebahagiaan kamu bukan aku.”

Xena membuang wajah, menghindari tatapan Tony yang masih mengusap wajahnya. Ia menggigit bibir, menahan perasaan yang tidak ia mengerti. Xena tertegun ketika Tony mengecup dahinya, membuat kakinya terasa lemas. Perasaannya menjadi semakin absurd, buliran air mata kembali menetes membasahi wajahnya. Ia mengangkat wajah, menatap mata hitam Tony dalam-dalam.

“Tolong berhenti membuat aku jatuh cinta…”

Xena melangkah melewati Tony yang masih mematung karena ucapannya. Mungkin benar apa yang dikatakan orang, masa lalu bukanlah tempat yang baik untuk tinggal.

***

“Otong! Aku takut sama Keanu. Masa dia bilang, aku harus jadi pacar dia. Apapun caranya! Aku udah bilang, kita berteman aja. Tapi dia nggak mau. Terus tadi pagi, dia udah nungguin aku di depan gerbang kampus. Aarrghhh…, aku nggak nyaman kalau kayak gini ceritanya. Udah sukanya maksa, kasar, nyebar cerita yang aneh-aneh lagi ke temen-temennya. Masa dua hari ini aku udah dapat sms yang isinya aneh-aneh gitu dari teman-teman dia.”

“Keanu anak E2 itu?”

“Iya. Aduh! Aku bingung gimana ngomong ke dia biar dia tuh ngerti, aku nggak mau jadi pacar dia!”

“Dia ngomong apa aja?”

“Dia bilang…” Xena mulai menjelaskan panjang lebar pada laki-laki berkulit putih itu. Sepasang mata cokelatnya yang teduh membuat sepasang mata tajam milik lawan bicaranya melihat lekat ke sana.

“Kamu tunggu di sini dulu ya, Neng.”

“Lah? Kamu mau ke mana?”

“Aku ada urusan. Sebentaaaar, aja. Sebentar. Jangan ke mana-mana.”

Tony melenggang pergi, Xena menatap punggung lelaki itu hingga menghilang di balik koridor. Ia memasang earphone, mendengarkan lagu-lagu yang diputar di playlistnya sambil sesekali melirik jarum jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Ia baru saja akan beranjak dari bangkunya ketika dilihatnya seorang laki-laki berkulit putih bertubuh kurus mendekat ke arahnya. Seketika itu juga ia panik, ia berusaha untuk menutupi wajahnya dengan tas kain bertali panjang yang tersampir di pundaknya.

“Aduh! Mampus gue, tuh anak ada di sini. Mati! Mati!” Gerutu Xena sembari terus menutupi wajahnya.

“Xen!”

Xena mendongak, melihat lelaki yang setengah mati ia hindari itu sudah berdiri di hadapannya.  Wajah lelaki itu kecut, bibirnya pucat. Xena tersenyum kecut, ia merapatkan tubuhnya pada punggung kursi.

“Kenapa, Nu? Lo sakit?”

Keanu menggeleng. “Gue minta maaf karena udah maksain kehendak gue sama lo. Juga udah bikin lo takut dan nggak nyaman. Gue juga minta maaf untuk sikap temen-temen gue, Xen. Maafin gue ya.”

“Dih, lo kenapa deh tiba-tiba minta maaf sama gue?”

“Vembeer nyuruh gue minta maaf sama lo. Maafin gue, Xen.”

Keanu, lelaki itu pergi meninggalkan Xena yang masih teranganga tak percaya dengan apa yang baru dilihat dan didengarnya. Ia mencubit lengannya sendiri, kemudian menepuk-nepuk pipinya sendiri.

“Gue mimpi nggak sih? Gue yang kesambet atau anak itu yang kesambet?”

“Kamu kenapa, Neng?” Tony yang tiba-tiba sudah berdiri di samping Xena menahan senyum melihat kelakuan perempuan itu.

“Aku kesambet kali ya? Apa aku ketiduran terus mimpi Keanu minta maaf?”

“Nggak mimpi kok. Tadi aku berpapasan sama dia. Hebat dia minta maaf sama kamu.”

“Orang dia bilang disuruh temannya. Siapa tuh, Vembeer? Emangnya Vembeer kenal aku ya? Aku aja nggak kenal sama dia.”

“Cieee…, terkenal nih ye.”

“Apaan, sih?! Eh, kamu dari mana sih? Ada urusan apa?”

“Dari ketemu teman, ada… urusan laki. Biasalah.”

“Ih, film porno ya?”

“Nggak.”

“Ih, tuh kan nggak mau ngaku!”

“Emang nggak kok, bukan itu.”

“Terus apa dong?”

“Apa yaaa? Hahaha… Udah, yuk. Mau makan, nggak?”

“Habis makan, es krim ya? Kali ini aku yang bayar deh, itung-itung syukuran Keanu udah sadar. Terimakasih Ya Allah.”

Tony hanya tertawa kecil. Ia mengucak puncak kepala gadis itu, merasa lega dengan reaksi bahagia dan merasa amannya. Mereka berjalan bersisian, tertawa dan menceritakan hal-hal aneh hari ini. Tanpa perempuan itu sadari, sepasang mata hitam tajam lawan bicaranya merekam setiap ekspresinya. Dan tanpa pernah ia tahu, lawan bicaranya-lah yang membuat Keanu mau meminta maaf. Dengan bantuan Vembeer, tentu saja. Sahabat terbaiknya.

“Eh, kalau kamu ketemu Vembeer, bilangin terimakasih ya ke dia. Makasih banget. Kan kamu anak gaul, kali aja dia satu tongkrongan sama kamu.”

“Tongkrongan, toilet kali tongkrongan. Iya, nanti kalau ketemu Vembeer aku bilangin makasih ke dia. Pake salam cinta juga nggak?”

“Nggak, ah. Nanti kalo pakai cinta-cintaan ada yang cemburu.”

“Siapa? Chandra?”

“Kamu.” Xena tersenyum lebar memamerkan deretan giginya yang rapih.

“Ngarep!” Cubit lelaki itu.

“Yee! Kalo suka mah bilang aja. Takutnya aku mau nunggu, tapi waktu nggak ngasih kesempatan buat kamu. Kan kesempatan nggak datang dua kali.”

“Neng, dengar ya. Nggak mungkin aku suka dan sayang sama kamu lebih dari sekedar teman. Aku nggak mau nikung teman sendiri!”

“Yaudah aku kan bercanda, Tong. Serius amat.”

Xena melemparkan pandangannya pada gelas jus mangganya, sedangkan Tony memainkan lighter-nya. Mereka terdiam sesaat, mencoba mengatur degup jantung masing-masing dan menekan perasaan aneh yang semakin memenuhi hatinya. Perasaan aneh itu bercampur dengan rasa sakit yang menjalari dada perlahan-lahan. Xena menyedot isi gelasnya, Tony menghisap linting tembakaunya dalam-dalam. Mereka sama-sama tahu, ada yang tidak biasa di antara mereka berdua. Tetapi mereka belum mau mengakui, bahwa mereka memiliki rasa yang sama. Bagi mereka, seperti itu saja cukup.

***